Salah satu parpol yang saat ini sedang kesulitan mencari kuota perempuan untuk dijadikan caleg adalah Partai Persatuan Pembangunan (PPP).
Meskipun sudah melaksanakan tahapan seleksi dan perekrutan caleg untuk bertarung di 2024 mendatang, namun di semua daerah pemilihan yang ada di KTT belum semuanya memenuhi kuota 30 persen keterwakilan perempuan.
Hal ini diungkapkan Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PPP Tana Tidung, Hanafi. Menurutnya, dapil satu baru mendapatkan dua caleg perempuan, padahal yang dibutuhkan minimal 4.
Sedangkan untuk di dapil dua baru ada 2 sedangkan yang dibutuhkan 3 caleg, bahkan untuk dapil tiga masih kosong.
“Meskipun demikian, kami masih melakukan seleksi-seleksi lagi untuk memenuhi keterwakilan perempuan 30 persen di setiap dapil. Kesulitan mencari caleg perempuan di KTT ini karena minat para wanita terjun ke dunia politik masih kurang. Kita sadari penduduk KTT ini juga sedikit, sehingga SDM perempuan untuk berpolitik kurang,” kata Hanafi dilansir dari Korankaltara.com Selasa (22/3/2022) hari ini.
Meskipun masih kesulitan memenuhi kuota 30 persen keterwakilan perempuan, namun Hanafi mengaku pihaknya akan dapat memenuhi target perolehan kursi di DPRD pada Pemilu 2024 mendatang.
Saat ini sudah ada dua kadernya yang sudah duduk di parlemen dan pada 2024 nanti dirinya percaya diri akan mampu mendulang suara hingga mengantarkan tiga calegnya menjadi anggota DPRD.
“Untuk mewujudkan target tersebut, yang dilakukan PPP adalah terus melakukan konsolidasi mulai kepengurusan tingkat bawah seperti PAC (Pengurus Anak Cabang), organisasi sayap partai. Kami juga terus bergerak dalam memberikan pemahaman politik kepada masyarakat. PPP akan memperjuangkan aspirasi maupun kebutuhan masyarakat dalam bidang pembangunan,” bebernya.
Selain PPP, beberapa waktu lalu partai Demokrat KTT juga mengaku kesulitan mendapatkan keterwakilan perempuan, sehingga harus terus melakukan berbagai upaya untuk menarik simpati kaum hawa untuk ikut terjun ke dunia politik.
Editor: Aspian Nur