Dalam konferensi pers Imigrasi Nunukan Kamis (10/3/2022) hari ini terungkap, kedua wanita ini terbang dari Surabaya ke Tarakan menggunakan pesawat.
Sampai di Tarakan, keduanya melanjutkan perjalanan menggunakan speedboat reguler ke Sei Nyamuk.
“Nah, saat sampai di Sei Nyamuk, kami langsung periksa karena gerak geriknya mencurigakan. Kebetulan kami tanya, keduanya memang agak tertutup dan terus mengelak. Mungkin tidak percaya, karena saat itu kami gunakan pakaian preman (bukan seragam),” ungkap Kepala kantor Imigrasi Nunukan, Washington Saut Dompak dilansir dari Korankaltara.com Kamis (10/3/2022) hari ini.
Akhirnya, petugas pun membawa keduanya ke Pos Imigrasi dan keduanya pun mulai terbuka saat diperiksa identitasnya, seperti KTP hingga paspor yang ditujukan.
“Di sinilah kami menaruh curiga terhadap paspornya. Kami dalami dan membawa ke kantor Imigrasi Nunukan hari itu juga,” ujarnya.
Kecurigaan itu dikarenakan bahan maupun nomor kedua paspor tidak sinkron. Dicetakan halaman, khusus halaman biodata pemegang merupakan halaman keluaran KBRI KL sementara halaman lainya dalam negeri.
Ditambah lagi, dari ketiga paspor tersebut memiliki nama yang berbeda. Misalnya, paspor milik K ini di paspor aslinya yang ditemukan memang berinisial K namun di paspor palsunya berinisial S. Sementara wanita satunya beridentitas A namun di paspor berinisal D.
“Jadi, yang diganti halaman identitas itu. Kemungkinan dibikin di dalam negeri. Karena, setiap buku paspor itu ada kodenya masing-masing bahwa buku ini antar imigrasi dalam negeri. Nah, kode nomor yang bolong-bolong itu peruntukan wilayah,” papar Washington.
Dari pengakuan keduanya, mereka dari Sei Nyamuk akan menuju Kuala Lumpur (KL) Malaysia. Namun yang membuat dirinya sempat bingung, lantaran keduanya memilih jalur yang ada di perbatasan Sebatik.
Padahal, rata-rata PMI yang non prosedural jika berasal dari Surabaya itu lebih dekat melewati Batam ke KL.
“Seharusnya, jalur terdekat mereka itu lewat Batam. Kalau lewat sini kan, mereka harus putar lagi, dari Tawau, KK, lalu KL. Ini baru kasus pertama kami temukan,” sebut Washington lagi.
Kemungkinan paspor palsu yang keduanya gunakan agar bisa masuk Malaysia atau hanya untuk penerbangan.
“Karena, biasanya kalau PMI non prosedural mau pulang atau kembali, mereka tanpa izin dan tidak punya dokumen sama sekali, artinya loss dokumen,” jelasnya.
Saat ini, Imigrasi Nunukan masih mendalami kasusnya untuk menetapkan pasal keimigrasian maupun lainnya yang telah dilanggar.
Sebab, dari pengakuan keduanya, mereka tidak tahu jika itu adalah paspor palsu dan hanya diberi pengurusnya. “Termasuk, kami juga mengejar otak yang diuntungkan dalam kasus ini,” ucap Washington.
Kedua wanita ini memang sebelumnya pernah berada di Malaysia. Namun K dan A Ini pulang ke Indonesia. K pulang sejak dua tahun terakhir dan A sejak tiga tahun terakhir.
“Untuk K ini memang ada paspor lamanya. Itu asli, tapi dia gunakan paspor palsunya. Nah, yang satunya itu masih kami periksa juga apakah ada paspornya (asli) atau tidak,” paparnya.
Sementara itu, K mengaku tidak mengenal pasti siapa pengurusnya atau calo tersebut. Dia hanya bertemu satu kali dan tahu hanya dari mulut ke mulut.
Selebihnya mereka komunikasi melalui lewat handohone. Untuk pengurusan paspor palsu itu, K dan A dimintai uang sebesar Rp10 juta sudah sampai di KL.
“Tidak ada persyaratan, dia hanya minta gambar saya itu pun kirim lewat handphone,” sebut K.
K mengaku tidak mengetahui jika paspor yang diberikan tersebut adalah palsu. Dia pun tak melihat namanya yang berbeda di paspor tersebut.
“Paspor saya yang satu (asli) saya sudah bagi sama dia (pengurus). Nah, hari Sabtu, dia suruh pergi jumpa dia di tengah jalan. Itu paspor asli dibagikan ke saya lagi, dia suruh simpan. Saya ikut apa cakap (kata) dia. Saya tidak terlalu periksa. Saya hanya lihat foto saya di situ, okeylah,” jelas ibu anak satu ini.
Alasan dirinya kembali ke Malaysia semata untuk bertemu dengan suaminya yang saat ini berada di KL sebagai buruh bangunan. Sementara si A, K mengaku tak mengenalnya meskipun berasal dari kampung.
“Memang satu kampung tapi rumahnya saya tidak tahu. Karena jauh tempatnya. Saya kenal baru seminggu saja. Ketemu saat mau berangkat. Nah, kemarin saya pulang ke Indonesia, karena kangen anak sama keluarga di kampung,” jelas wanita yang bekerja di kedai Malaysia ini.
Editor: Aspian Nur