Dibutuhkan tiga armada mobil pemadam dan suplai truk untuk meredakan amukan si jago merah. Tebalnya asap membuat jarak pandang terbatas. Petugas dan warga yang membantu memadamkan api bahkan mengalami sesak napas. Beberapa petugas yang berada paling depan dibekali tabung oksigen.
Cuaca terik ditambah angin yang cukup kencang, membuat api mudah menjalar dari rumah ke rumah. Apalagi kebanyakan bangunan yang berada di pemukiman padat penduduk tersebut berkonstruksi kayu. Korban yang rumahnya dilalap api, tidak bisa menyelamatkan harta bendanya.
Data yang dihimpun, ada 38 bangunan yang ludes terbakar. Satu diantaranya terdampak atau terpaksa dirobohkan untuk memutus api tidak menjalar ke lokasi lain. Sedangkan jumlah korban musibah ini sebanyak 76 kepala keluarga (KK) dengan 296 jiwa harus mencari tempat berteduh sementara.
Meskipun pemerintah telah menyiapkan posko pengungsian, namun hanya ada 77 jiwa yang menempatinya, selebihnya memilih tinggal bersama keluarga di lokasi lain.
“Untuk berapa lama mereka di sini, tergantung kebijakan dari Pak Wali Kota. Kami di sini berupaya bagaimana mereka ini tetap mendapatkan pelayanan dan nyaman, serta perhatian semua pihak. Saat ini para pengungsi membutuhkan makan, 3 kali sehari. Yang kedua pakaian karena rata-rata habis terbakar, yang ketiga kelengkapan bayi. Karena data kami ada 5 bayi dan 14 balita. Anak-anak butuh perlengkapan seperti pampers, susu, dan lain sebagainya,” ungkap Lurah Sebengkok Syakhril Rabu (27/10/2021) kemarin.
Untuk pelayanan kesehatan, di posko sudah ada tim medis dari PMI Tarakan. Sedangkan petugas keamanan diback up dari TNI/Polri maupun Satpol PP. Untuk menghimpun donasi yang terus berdatangan, dilibatkan Tagana dari Dinas Sosisl, Baznas, dan BPBD Kota Tarakan.
“Terkait seragam sekolah anak-anak korban kebakaran telah di-back up oleh Baznas. Saya minta kepada semua tim untuk memberikan fasilitas, meskipun sangat terbatas terutama air bersih dan MCK yang jumlahnya hanya 3. Dapur umum tidak ada, karena makanan di-back up oleh Baznas,” urainya.
Seorang pengungsi bernama Anshori mengaku belum tahu sampai kapan dirinya bersama keluarganya tinggal di posko. Pasalnya masih menunggu kebijakan dari pemerintah daerah, terutama fasilitas untuk membangun rumah baru. “Belum tahu sampai kapan di sini. Kalau tidak salah 14 hari. Habis semua, total sampai pakaian tidak ada sama sekali. Saya satu rumah ada 7 KK,” ujarnya.
Anshori mengaku kalau dirinya akan berusaha membangun rumah di lahan yang baru. Karena selama ini lahan yang digunakan untuk membangun rumah di RT 03 tersebut milik TNI AL yang dia pinjam selama kurang lebih 30 tahun.
“Kalau bangun ulang saya rasa disitu lahan AL bukan milik warga, kalaupun ada rezeki akan membangun di lahan sendiri saja karena saya ada tanah di Gunung Selatan. Kalau pemerintah bisa membantu kita para korban ini, terkait bahan untuk membangun rumah, Alhamdulillah. Kalau selama di pengungsian aman dan nyaman saja, ada tempat tidur, kipas angin dan lain sebagainya,” urainya.
Sumber: Korankaltara.com
Editor: Aspian Nur