“Kita dalam sehari, penumpang hanya 1 sampai 2 orang saja. Untuk pendapatan sendiri, hanya mencapai Rp 100 ribu saja,” jelas Sumadi saat dikonfirmasi, Rabu (7/6).
Dalam sehari, kata Sumadi, satu unit BRT mampu menghabiskan biaya operasional Rp 150 ribu. Dengan total 10 unit BRT, maka dalam sehari mencapai Rp 1,5 juta. Biaya operasional yang dimaksud sendiri yakni bahan bakar yang digunakan BRT tersebut. “Jadi pemasukan itu tidak sesuai dengan apa biaya yang dikeluarkan,” katanya.
Meskipun demikian, pihaknya tetap mengoperasikan BRT. Karena BRT adalah program pemeritah yang harus dijalankan untuk melayani masyarakat dibidang transportasi di Bumi Paguntaka-sebutan lain Kota Tarakan. “BRT sekarang masih beroperasi di wilayah Tarakan Timur yang mencakup Kelurahan Kampung Empat, Kampung Enam, Mambrungan, Tanjung Pasir, Tanjung Batu sampai dengan Pantai Amal. Sehingga banyak masyarakat yang belum mengetahui keberadaan BRT ini,” terangnya.
Untuk penumpang yang menggunakan jasa BRT, dikenakan tarif sebesar Rp 15 ribu. Menurutnya, tarif tersebut dianggap murah. Karena tidak terhitung dengan jarak tempuh. Dalam artian, meski penumpang yang akan pergi ke tempat yang jauh seperti dari kota sampai dengan Pantai Amal, tarifnya tetap sama.
Dengan demikian, dirinya berharap pemerintah dapat memberikan sosialisasi BRT ini kepada masyarakat agar lebih dikenal. Sehingga, daya tarik masyarakat lebih tinggi untuk menggunakan BRT dibandingkan kendaraan pribadi. “Bisa melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar BRT ini lebih dikenal lagi,” tandasnya. (mus217)