“Pada komoditi hasil tambang, Kaltara impor kerikil dari Malaysia di Bulan Juli 2019. Daripada didatangkan dari Jawa atau Sulawesi, mungkin biayanya jauh lebih murah ketika ambil dari Malaysia,” kata Eko saat dikonfirmasi Koran Kaltara, Selasa (3/9).
Di sisi lain, Eko menjabarkan bahwa total impor di bulan Juli turun 39,44 persen dibanding Juni 2019. Atau dari USD7,13 juta (Rp101,17 miliar) menjadi USD4,32 juta (Rp61,3 miliar). Lebih detail, impor pada Juli didominasi hasil industri. Persentasenya mencapai 98,84 persen atau setara Rp60,59 miliar.
Lanjutnya, impor hasil industri diprediksi untuk menunjang realisasi investasi di Kaltara. Mengingat secara pola historis, impor Kaltara dalam beberapa tahun terakhir didominasi komoditi tersebut. Semisal mesin, peralatan mekanis dan alat elektronik.
“Komoditi impor dari luar secara keseluruhan masih didominasi hasil industri. Kalau kita lihat setidaknya dari tahun 2018, hasil industri memang banyak masuk untuk kebutuhan realisasi berbagai macam investasi di Kaltara,” ujarnya.
Terkait dengan negara pengimpor, disampaikan Eko terdiri dari tiga negara. Yakni China sebesar USD2,32 juta (Rp32,92 miliar), Malaysia sebesar USD0,83 juta (Rp11,77 miliar) dan Singapura sebesar USD1,17 juta (Rp16,60 miliar).
“China menjadi negara yang paling besar mengirimkan komoditi dari kategori hasil industri tadi,” tambah Eko.
Penulis: */Agung Riyanto/Korankaltaracom