Lebih lanjut dikatakan Diro, terkadang hasil penjualan
minyak kayu putih kemasan dengan cap burung Kenawai ini tidak sesuai dengan
besaran biaya produksi. Sehingga tidak ada keuntungan sama sekali.
“Mesin yang kita miliki yang berada di Kampung Satu sebelah
kantor pemadam kebarakan itu hanya 300 kilogram daun, setelah dilakukan
penyulingan setidaknya dapat menghasilkan minyak kayu putih sebanyak 1,5 liter
saja. Sedikit saja memang, karena belum bisa produksi banyak dan penjualan yang
kita lakukan sudah dalam bentuk kemasan botol berbagai ukuran,” bebernya.
Penjualan yang lambat membuat uang yang didapat juga lambat
sehingga modal yang kembali berjalan cukup lama, diperkirakan jika sudah mampu
memproduksi hingga 1 ton, Diro mengaku pihaknya akan menjual dalam bentuk curah
atau literan.
“Kita akan membangun kerja sama dengan investor untuk
membeli minyak produksi kami dan silakan mereka mengemas kembali untuk dijual.
Mesin yang kita miliki saat ini kapasitanya kecil, tetapi biaya operasionalnya
besar dari pada hasilnya,” ucapnya.
Kalau untuk bahan baku, dipastikan Tarakan memiliki cadangan
yang cukup banyak. Sedangkan untuk merek dagang yang telah mendapatkan izin
adalah cap burung Kenawai atau burung warna putih yang sering terlihat di
tambak.
“Hasil produksi kita dijual ke apotik-apotik dan gerai
oleh-oleh milik pemerintah kota maupun provinsi, nantinya pabrik minyak kayu
putih ini akan dikelola oleh kelompok tani supaya bisa menguntungkan bagi
anggotanya. Nantinya kelompok tani bisa menjual secara curah kepada investor
untuk dikemas kembali menjadi produk khas Tarakan,” pungkasnya. (yan)