Korban Longsor Dapat Santunan Rp 2,5 Juta dari Wali Kota Tarakan
2 menit baca860 kali dibaca
TARAKAN- Meskipun Pemerintah Kota (Pemkot) Tarakan telah memberikan santunan kepada korban tanah longsor, namun jumlah yang diberikan tidak sesuai dengan tingkat kerugian yang dialami warga. Meskipun demikian, korban tanah longsor tetap bersyukur mendapatkan perhatian dari pemerintah.
Dikatakan salah satu korban tanah longsor yang tinggal di RT 32 Kelurahan Sebengkok, bahwa besaran santunan yang diberikan pemerintah jauh dari harapan. Pasalnya, dana sebesar Rp 2,5 juta tidak akan cukup untuk merenovasi dinding rumahnya yang jebol akibat terjangan material tanah longsor.
“Ruang keluarga jebol, sampai saat ini belum dikerjai, masih dibiarkan begitu saja dan kami mengungsi ke tempat keluarga. Jadi kondisi rumah masih berantakan, kita maunya samping rummah disering dulu baru kita betulin dinding yang jebol,” terangnya, usai menerima bantuan, Selasa (5/12).
Untuk memperbaiki rumahnya yang rusak, Saleh mengaku butuh dana sebesar Rp 80 juta untuk membeli semen, batu bata, batu, besi, kayu ulin, dan membayar tukang. Dengan demikian, santunan yang diberikan pemkot sebesar Rp 2,5 juta masih jauh dari kata cukup.
“Tapi tidak apa-apa, ada perhatian dari pemerintah. Kalau untuk sembako dan peralatan dapur akan kita manfaatkan sebaik mungkin. Untuk memperbaiki rumah nanti kita carikan solusi lainya, Alhamdulillah sudah diperhatikan oleh pemerintah,” ungkapnya.
Sementara itu, Walikota Tarakan Sofian Raga mengaku, berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tarakan, jumlah korban tanah longsor mencapai 43 rumah, 55 Kepala Keluarga, dan 223 jiwa.
“Hampir setiap tahun ada musibah tanah longsor, supaya tidak terjadi musibah yang sama kita inginkan adanya kepedulian warga untuk membuat tempat hunian yang berstatus aman dari longsor. Makanya perlu perencanaan yang komprehensif, dengan melibatkan seluruh masyarakat. Jangan pemerintahnya mau menanggulangi bencana tanah longsor tetapi warganya tidak mau,” ucapnya.
Untuk itu, Pemkot Tarakan akan melakukan survey titik rawan lonsgor guna melakukan tindakan pencegaham, jika masih bisa dipertahankan akan dilakukan penanaman pohon maupun pembangunan sering. Tetapi untuk pembangunan sering harus melihat situasi dan kondisi, jangan sampai membangun sering dengan anggaran lebih mahal dibandingkan dengan membangun rumah.
“Untuk membangun sering, secara teknis bisa dilakukan, jangan kemiringan 90 derajat kita bangun sering. Selain tidak efisien, juga membutuhkan perencanaan yang matang. Makanya satu-persatu akan dinilai kawasan-kawasan yang rentan dari bencana longsor, karena bencana ini bisa menimbulkan korban jiwa,” ujarnya.
Lebih lanjut dikatakan Sofian, supaya di masa yang akan datang tidak ada lagi bencana tanah longsor, warga jangan menambah atau membangun rumah yang rawan longsor. Jangan sampai saat hujan dengan intensitas tinggi, membuat warga tidak tenang dan tidak bisa tidur karena was-was.
“Saya mengimbau, mari semua memperhatikan bahwa tempat tinggal itu penting untuk kenyamanan, jangan bagun lagi di lereng-lereng bukit. Karena kalau bangun di lereng bukit ada resikonya, apalagi tanah kiita ini berpasir, makanya jangan ditambah lagi,” tegas Sofian.
Contoh musibah tanah longsor sudah banyak, bahkan sampai menimbulkan korban jiiwa. Jika tidak disikapi mulai dari sekarang akan menyebabkan jatuhnya korban dikemudian hari. “Contohnya sudah banyak, jjangan diberi contoh lagi, apalagi sampai mencangkul lereng, mengambil batu, dan tidak menanami kembali bukit yang gundul. Maka alam akan marah, kalau sudah marah, dibikinlah longsor,” pungkasnya. (yan)










