Dalam unggahannya di Instagram, wanita yang dikenal dengan nama Tantri Kotak ini pun menyampaikan alasannya menggemakan tagar tersebut. “Saya pernah ada di posisi mereka dan saya tahu sulit sekali rasanya. Dulu waktu SMA, saya jualan es untuk bisa dapetin uang jajan tanpa minta orangtua, ibu saya jualan nasi uduk paginya siang ke sore jualan sayur. Itu setelah kondisi ayah saya yang kena stroke ringan dan harus pensiun dini,” tulis Tantri.
“Jadilah kami mencoba berdagang untuk bisa dapat uang minimal untuk harian. Saat sudah punya penghasilan dari Kotak sempet juga kerjasama dengan beberapa orang buka restoran steakology tapi ternyata bisnis dengan banyak orangpun ga semulus yang dibayangkan, akhirnya mencoba buka rumah makan/depot sendiri, terjun ke pasar dan ngelayanin sendiri, rasanya? BERAT!,” papar Tantri lagi.
“Bagi sebagian orang pasti mikir amanlah artis pasti gampang jualannya, ya memang dari segi promo lebih dimudahkan tapikan ga selalu ramai pasti ada saat sepinya, apalagi saya pernah merasakan di komplain tanpa sebab yang jelas. Akhirnya nasib depot harus saya tutup karena ga bisa handle dengan alasan kesibukan saya yang harus manggung keluar kota,” ungkap istri dari Hatna Danarda alias Arda Naif Band ini.
“Saya ngerasain banget susahnya jadi pedagang, pendapatan yang fluktuatif, buang makanan sisa klo ga laku dan pernah buntung daripada untung. Melihat kondisi saat ini yang berjuang untuk dpt upah harian tapi harus menutup dagangan mereka di jam malam, dimana banyak orang yang suka makan malam rasanya kurang pas,
saya jarang bersuara untuk hal ini, tapi saya tergelitik untuk mengungkapkan perasaan saya, yang salah bukan dagangannya, mereka berjuang mencari nafkah untuk keluarga, hanya tinggal mengedukasi orang yang beli tanpa harus makan di tempat mungkin lebih tepat dibanding harus menutup dagangan karena terlihat ada kerumunan,” papar ibu dari
Karanada Medina Danarda ini.
“Take away, ojek online bisa membantu dagangan mereka bahkan tetap bisa membantu ekonomi para ojol. Semalam jam 20.45 saya cari bubur ayam favorit, mereka tergesa-gesa mau nutup dagangannya pdahal buburnya masih BANYAK BGT! Ada kalimat yang bikin saya sesak, “maaf mba saya harus tutup takut diambil gerobaknya saya ga bisa jualan besok” duuhhhh!,” tulis Tantri lagi dengan emoticon menangis.
“Semoga para aparat yang juga bekerja di lapangan untuk mendisiplinkan punya cara yang lebih elegan karena kita sama2 berjuang. Semangat para pencari rejeki,” tutpnya dalam tulisan itu yang menampilkan fotonya bersama sang suami membeli bubur ayam.
Seperti diketahui, para pedagang kaki lima dalam penerapan PPKM Darurat dan Mikri ini diharuskan berjualan hanya sampai jam delapan malam dan selama berjualan hanya melayani secara online atau dibawa pulang, tidak boleh ada kerumunan.
Penulis/Editor: Aspian Nur