Di sisi lain, mencuci tangan pakai sabun bisa menurunkan risiko diare hingga 45%. Diare merupakan penyakit yang sering menyerang anak-anak. Jika seorang anak diare berulang, terutama di periode 1000 hari pertama kehidupan, kemungkinan besar dia tidak akan mendapatkan gizi yang cukup. Kekurangan gizi itulah yang menyebabkan stuntingpada anak.
Berdasarkan data di atas dapat ditarik kesimpulan jika seorang anak rajin mencuci tangan, maka dia bisa menurunkan risiko diare. Apabila diare tidak terjadi, maka nutrisi yang dikonsumsinya dapat diserap dengan baik oleh tubuh sehingga menurunkan risiko stunting. Di sinilah letak keterkaitan antara mencuci tangan pakai sabun dengan stunting.
“Stunting bukan hanya persoalan kurang mengonsumsi makanan bergizi atau tidak ada fasilitas. Akan tetapi dari perilaku masyarakatnya sendiri. Tidak hanya masyarakat miskin yang mengalami masalah ini. Di kalangan orang kaya, angka stunting-nya juga masih tinggi. Maka dari itu perlu terus dilakukan kampanye untuk terus mengingatkan pentingnya mencuci tangan pakai sabun guna mencegah stunting,” ujar Iing Mursalin, M.Si, Direktur Program Kesehatan dan Gizi Berbasis Masyarakat MCA-Indonesia saat ditemui dalam acara peringatan Hari Cuci Tangan Sedunia, Sabtu (21/10/2017) di RPTRA Teratai, Tebet, Jakarta Selatan.
Dari data Riskesdas 2013, angka mencuci tangan di kalangan anggota rumah tangga di atas 10 tahun hanya 47%. Hal ini menunjukkan bahwa masih banyak orangtua yang juga belum menerapkan kebiasaan mencuci tangan. Sedangkan kebiasaan mencuci tangan dapat diterapkan pada anak apabila orangtuanya mencontohkan.
Masalah stunting pada anak memiliki dampak serius pada kualitas sumber daya manusia. Jika kualitas SDM buruk, maka akan memengaruhi tingkat produktifitas dan perekonomiannya kelak. Bukan tidak mungkin jika hal ini memberikan efek negatif pada kehidupan suatu bangsa karena masyarakatnya tidak mampu bersaing dengan bangsa lain. (okz)