Tak hanya untuk memoles wajah, kini fitur edit foto juga mampu “menghilangkan” jerawat, memutihkan gigi, dan melangsingkan perut. Kemampuan itu terus dikembangkan, terutama oleh media sosial yang foto-sentris.
Mengambil, melihat dan membagikan foto diri yang telah diedit membawa dampak terhadap bagaimana orang lain memandang diri kita.
Berdasarkan data Pew Research Center, total ada 166 juta pengguna harian Snapchat, 41 persen di antaranya adalah remaja berusia 13 hingga 17 di tahun 2015. Mereka suka menggunakan fasilitas filter pada Snapchat yang membuat mereka terlihat konyol dan bermain-main. Mulai dari filter mahkota bunga, telinga kelinci, hingga taburan hati.
Filter lainnya juga merefleksikan kecantikan dalam standar digital. Seperti pemutih kulit, pembentuk hidung, pewarna bibir, dan filter lainnya yang membuat kita seolah menggunakan make up.
Sementara Instagram memiliki 500 juta pengguna harian dan digunakan oleh sekitar 52 persen remaja berusia 13 hingga 17 tahun pada 2015.
Instagram memiliki lebih dari 20 jenis filter yang bisa digunakan untuk mengedit foto. Kita bisa mengedit foto kita menjadi hitam-putih dan mengatur tingkat keterangannya, hingga bisa membuat seolah kita berfoto dengan latar belakang emas. Semua itu hanya dengan mengotak-atik filter di media sosial ini.
Memanipulasi foto sudah menjadi bagian dalam hidup semua orang. Bahkan jika Snapchat dan Instagram menghapus fitur filter mereka, bisa jadi platform lain yang mengambil alih fitur tersebut.
Disadari atau tidak, unggahan di media sosial menjadi sarana kompetisi untuk terlihat lebih mewah, membandingkan liburan satu sama lain, memamerkan baju atau makanan, hingga menunjukkan pesona palsu foto mereka yang dipoles menggunakan filter.
Efek kegelisahan
Tidak semua orang mampu menyadari bahwa apa yang ditampilkan di media sosial hanyalah gambaran kecil dari realita. Akibatnya, kita akan hidup dalam kesempurnaan semu yang coba diraih. Kita juga akan merasa rendah diri dan tidak puas dengan kehidupan yang dimiliki karena selalu membandingkannya dengan orang lain yang kita lihat di media sosial.
Pada awal tahun, badan kesehatan masyarakat di Inggris merilis #StatusOfMind, laporan tentang dampak penggunaan media sosial terhadap kesehatan mental.
Survei dengan 14 pertanyaan ini dilakukan terhadap 1.500 anak muda berusia 14 hingga 24 tahun. Pertanyaan yang diajukan terkait dengan kondisi mental dan penggunaan YouTube, Snapchat, Facebook, Pinterest, dan Twitter.
Kecuali Youtube, semua platform media sosial tersebut terkait dengan efek kegelisahan dan depresi para penggunanya. Dua media sosial yang paling menonjolkan foto, yaitu Snapchat dan Instagram, dianggap memiliki skor paling rendah dalam hal “kesejahteraan mental”. Hal ini terkait dengan “bullying” dan munculnya “fear or missing out” (FOMO). (kc)