Ahmad Reyhan, karyawan Toko Emas Aisyah di Petung, Kecamatan Penajam, mengatakan dinamika pasar global menjadi salah satu faktor yang memengaruhi fluktuasi harga emas. Menurutnya, kondisi pasar yang masih bergejolak membuat harga logam mulia bergerak tidak menentu dan cenderung mengalami penurunan dalam beberapa waktu terakhir.
Menyikapi kondisi ini, pihaknya untuk sementara memilih tidak menyediakan stok emas batangan Antam. Kebijakan itu diambil sebagai bentuk kehati-hatian agar konsumen tidak mengalami kerugian besar akibat perubahan harga yang terjadi dalam waktu singkat.
“Emas ini berpengaruh sama perang-perang di dunia ini kan. Untuk saat ini sih belum ada (tanda kenaikan), soalnya emasnya masih belum stabil, naik turun,” ujar Reyhan saat ditemui di toko, Senin (1/6/2026).
Kebijakan mengosongkan stok Antam diambil karena komoditas tersebut mengikuti harga pasar Buyback (beli kembali) harian yang terus merosot sejak Maret atau April lalu.
Menurut Reyhan, jika konsumen membeli di saat harga tinggi dan terpaksa menjualnya dalam waktu dekat, mereka akan mengalami kerugian yang sangat drastis.
“Misal dulu beli harganya Rp3 juta, terus jual, otomatis kan anjlok banget. Jadi makanya kami enggak nge-ready-kan. Kasian yang tiba-tiba ada yang butuh dana cepat mau jual Antam itu,” jelasnya.
Ia mencontohkan, belum lama ini terdapat konsumen yang rugi hingga Rp20 juta saat menjual Antam 50 gram miliknya karena harga pasar yang sedang jatuh. Meski demikian, pihak toko tetap bersedia menerima jika ada warga yang ingin menjual Antam mereka.
Penurunan harga akibat dampak geopolitik ini tidak hanya memukul jenis emas batangan, melainkan juga perhiasan yang mengalami penurunan cukup signifikan dari harga puncaknya.
“Hari ini harga emas lagi turun dari harga sebelum-sebelumnya yang lebih tinggi. Kemarin itu emas kadar 750 sempat sampai Rp2.600.000, sekarang jadi Rp2.250.000,” tutupnya.
Editor: Erwin