Kondisi tersebut memicu kenaikan harga telur lokal akibat meningkatnya biaya transportasi dan harga pakan ternak yang didatangkan dari luar daerah.
Pengusaha ayam petelur di Kampung Ujoh Bilang Nur mengatakan, harga telur di tingkat peternak mengalami penyesuaian dalam beberapa bulan terakhir setelah harga pakan terus mengalami kenaikan.
“Dulu kami jual Rp58 Ribu per piring, sekarang untuk partai Rp60 Ribu, eceran Rp65 Ribu. Sebenarnya harga telur tidak naik, cuma kami mengikuti kenaikan harga pakan,” ujar Nur kepada Korankaltim.com, Jumat (29/5/2026).
Kenaikan biaya produksi sangat dipengaruhi kondisi geografis Mahulu yang masih bergantung pada transportasi sungai dan distribusi barang dari luar daerah, khususnya dari Samarinda.
“Di Mahakam Ulu ini semua berpengaruh dengan transportasi. Jadi kalau BBM naik, mau tidak mau harga produksi telur ikut naik,” katanya.
Kenaikan BBM juga berdampak pada biaya pengiriman pakan ternak melalui jalur sungai. Selain harga pakan naik di tingkat distributor, ongkos pengiriman kapal menuju Mahulu juga ikut mengalami kenaikan.
"WaktuBBM belum naik, transportasi kapal juga tidak naik. Sekarang BBM naik, transportasi kapal ikut naik juga,” ucap Nur lagi.
Harga pakan ayam sebelumnya berada di kisaran Rp385 Ribu per karung. Kini harga tersebut meningkat menjadi Rp420 Ribu di Samarinda. Sementara harga pakan setelah tiba di lokasi kandang di Ujoh Bilang mencapai Rp465 Ribu hingga Rp470 Ribu per karung.
“Ada kenaikan dua kali. Dari Samarinda sudah naik, ditambah lagi biaya kapal,” ujarnya.
Saat ini peternakannya memiliki sekitar 5.000 ekor ayam petelur. Dari jumlah tersebut, sekitar 2.000 ekor ayam sudah mulai aktif bertelur, sementara sisanya masih dalam tahap pertumbuhan produksi.
Untuk memenuhi kebutuhan seluruh ayam, peternakan tersebut membutuhkan sekitar 12,5 karung pakan setiap hari.
Meski biaya produksi meningkat, Nur mengaku permintaan telur lokal di Mahulu masih sangat tinggi dan bahkan belum mampu dipenuhi sepenuhnya oleh produksi yang ada saat ini.
“Kalau untuk sementara permintaan pasar masih kurang jadi tetap kehabisan terus,” papar Nur.
Penambahan jumlah ayam petelur hingga 5.000 ekor nantinya diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan telur masyarakat di Mahulu yang terus meningkat.
Wilayah pemasaran telur lokal kini juga semakin meluas. Jika sebelumnya distribusi hanya mencakup wilayah Ujoh Bilang dan Long Melaham, kini pemasaran sudah menjangkau hingga Kecamatan Long Apari.
“Kalau untuk peminat tidak terpengaruh. Pemasaran juga tidak ada kendala,” pungkas Nur.
Editor: Aspian Nur