Hatchery atau unit pembenihan udang windu di Tanjung Batu kini mampu memproduksi bibit lokal yang diminati petambak karena dinilai memiliki kualitas lebih baik dibanding pasokan dari luar daerah.
Kepala Dinas Perikanan Berau, Abdul Majid, mengatakan selama ini kebutuhan bibit udang windu mayoritas masih didatangkan dari Tarakan hingga Pulau Jawa.
Namun, melalui kerja sama dengan YKAN dan SMK Negeri 3 Perikanan Tanjung Batu, produksi bibit lokal mulai berkembang.
“Alhamdulillah sudah ada produksi, hampir mencapai 100 ribu ekor. Walaupun masih banyak permintaan yang belum terpenuhi,” katanya Kepada Korankaltim.com, Rabu (13/5/2026).
Menurutnya, kualitas bibit hasil hatchery di Tanjung Batu justru lebih baik dibanding bibit dari Tarakan. Hal itu dipengaruhi proses distribusi bibit dari luar daerah yang memiliki tingkat mobilitas tinggi sehingga meningkatkan risiko kematian bibit.
“Kalau bibit dari Tarakan tingkat mortalitasnya bisa sampai 50 persen karena pengiriman. Sementara bibit dari Tanjung Batu lebih diminati petani tambak kita,” ujarnya.
Ia menjelaskan, hatchery yang dikelola bersama SMK Negeri 3 Perikanan tersebut sejauh ini berhasil membantu menekan tingkat kematian bibit saat ditebar di tambak. Meski kapasitas produksinya masih terbatas, keberadaan pembenihan lokal dinilai menjadi solusi awal bagi kebutuhan petambak di Berau.
Tingginya permintaan bahkan membuat pengelola hatchery kewalahan. Abdul Majid menyebut banyak permintaan yang terpaksa dibatalkan karena kapasitas produksi belum mencukupi.
“Teman-teman di hatchery sampai kewalahan, banyak yang terpaksa dibatalkan karena permintaannya tinggi,” katanya.
Untuk meningkatkan produksi, Dinas Perikanan Berau berencana mendorong penambahan fasilitas peneluran dan pengembangan area pembenihan di SMK Negeri 3 Perikanan Tanjung Batu. Menurutnya, lahan pengembangan masih tersedia sehingga peluang peningkatan kapasitas produksi cukup terbuka.
Sementara itu, kawasan lain seperti Pagat Betumbuk dan wilayah Sambaliung saat ini masih difokuskan sebagai lokasi pembesaran udang, belum menjadi pusat pembenihan.
“Ke depan kemungkinan akan dikembangkan lagi. Karena tempat yang ada sekarang memang masih kurang,” pungkasnya.
Editor: Erwin