Dalam pemaparan akademisi Universitas Brawijaya Malang, Prof. Gunawan Prayitno, hilirisasi dinilai bukan sekadar memperpanjang rantai produksi, tetapi juga menjadi jalan untuk menciptakan nilai tambah, memperluas lapangan kerja, hingga mengurangi ketergantungan daerah terhadap ekspor bahan mentah.
Kalimantan Timur (Kaltim) disebut memiliki peluang besar dalam pengembangan hilirisasi karena ditopang sektor pertambangan, perkebunan, hingga industri energi.
“Namun, tantangan terbesar masih berada pada kesiapan industri pengolahan, infrastruktur, dan konektivitas kawasan industri,” terangnya, Kamis (7/5/2026).
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim menunjukkan sektor industri pengolahan mulai menjadi motor baru pertumbuhan ekonomi daerah. Pada triwulan II 2025, industri pengolahan tumbuh hingga 15,12 persen dan menjadi sektor dengan pertumbuhan tertinggi di Kaltim.
“Ini menjadi sinyal awal bahwa arah hilirisasi mulai berdampak terhadap struktur ekonomi daerah yang selama ini didominasi sektor ekstraktif,” paparnya.
Selain itu, pengembangan kawasan industri dan KEK di Kaltim juga mulai menarik investasi baru, terutama pada sektor pengolahan sawit, energi, hingga turunan batu bara. Salah satu proyek yang ikut disorot yakni pengembangan industri oleofood di KEK Maloy Batuta Trans Kalimantan (MBTK) yang masuk dalam agenda hilirisasi nasional.
Dalam forum tersebut, hilirisasi juga dipandang penting untuk mendukung keberlanjutan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN). Sebab, keberadaan industri pengolahan dinilai dapat menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi baru dan mengurangi ketimpangan antarwilayah di Kalimantan.
Meski demikian, sejumlah tantangan masih menjadi perhatian, mulai dari kepastian lahan industri, kebutuhan energi besar, hingga kesiapan sumber daya manusia untuk mendukung transformasi industri.
Editor: Erwin