Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Timur, Mas’ud Rifai mengungkapkan nilai impor Kaltim tercatat sebesar USD631,68 juta atau meningkat 81,81 persen dibandingkan Februari 2026. Lonjakan ini sebagian besar dipicu oleh impor migas yang mencapai USD561,01 juta atau naik hingga 113,94 persen.
“Peningkatan impor pada Maret ini sangat dipengaruhi oleh komponen migas yang memang mendominasi struktur impor kita,” jelas Mas’ud.
Di sisi lain, impor nonmigas justru mengalami penurunan sebesar 17,06 persen menjadi USD70,67 juta. Meski turun, terdapat kenaikan signifikan pada komoditas tertentu, seperti besi dan baja yang melonjak hingga 928,69 persen atau bertambah USD11,33 juta.
Menurut Mas’ud, lonjakan pada komoditas tersebut berkaitan dengan meningkatnya kebutuhan material untuk pembangunan infrastruktur. Namun, penurunan impor mesin dan peralatan mekanis sebesar 42,29 persen perlu menjadi perhatian karena berpotensi mencerminkan perlambatan aktivitas investasi.
Dari sisi negara asal, impor nonmigas Kaltim masih didominasi oleh Tiongkok dengan kontribusi 23,38 persen. Disusul Malaysia sebesar 15,87 persen dan Amerika Serikat sebesar 9,61 persen.
Jika dilihat berdasarkan penggunaannya, impor barang konsumsi mengalami penurunan 21,05 persen. Sebaliknya, impor bahan baku/penolong meningkat tajam sebesar 84,31 persen, serta barang modal naik 28,87 persen.
“Ini menunjukkan bahwa aktivitas produksi masih berjalan cukup kuat, meskipun ada tekanan dari sisi global,” tambahnya.
Di tengah lonjakan impor, neraca perdagangan Kaltim pada Maret 2026 tetap mencatatkan surplus sebesar USD886,52 juta. Surplus tersebut ditopang oleh sektor nonmigas yang mencapai USD1,33 miliar, sementara sektor migas mengalami defisit sebesar USD446,99 juta.
Mas’ud menilai kondisi ini menggambarkan dua sisi ekonomi Kaltim. Di satu sisi, kinerja ekspor masih mampu menjaga surplus, namun di sisi lain ketergantungan terhadap impor migas menjadi tantangan yang perlu diantisipasi ke depan.
“Ke depan, penguatan sektor nonmigas menjadi penting agar struktur perdagangan kita lebih seimbang dan tidak terlalu bergantung pada migas,” pungkasnya.
Editor: Erwin