Plt Kepala Dinas (Kadis) Perindustrian dan Perdagangan Kutai Kartanegara (Kukar) Sayid Fathullah, mengungkapkan kondisi ini dipicu oleh akumulasi faktor internal dan eksternal. Secara internal, sekitar 30-40 persen dari total 703 petak toko yang tersedia terpantau belum beroperasi secara maksimal.
“Banyak pemilik toko yang belum membuka usahanya sama sekali. Ada juga pedagang mulai kehabisan modal untuk terus berjualan,” ungkap Sayid Fathullah, Kamis (5/5/2026).
Dirinya menyatakan Pemkab Kukar berencana menggandeng Bankaltimtara untuk menyediakan skema kredit permodalan yang lebih ringan bagi para pedagang TAS.
Kata dia, faktor ekonomi nasional yang melambat juga memberikan dampak daya beli pada pola konsumsi masyarakat di Tenggarong.
“Isu pemotongan Tunjangan Penambahan Penghasilan (TPP) bagi ASN akibat efisiensi nasional sangat berdampak. Secara nasional memang ekonomi sedang lemah,” katanya.
Disperindag telah menyiapkan langkah taktis guna memancing keramaian. Salah satunya dengan menginstruksikan pelaksanaan apel dinas antar Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di area pasar tersebut setiap pekan.
“Rencananya seminggu sekali apel di sana agar selesai apel para pegawai bisa langsung berbelanja atau menikmati kuliner pasar. Kita ingin langkah ini bisa berjalan baik,” jelasnya.
Sementara itu, kondisi ini dirasakan langsung oleh para pedagang salah satunya Putri, ia mengaku pendapatannya merosot tajam. “Kami sepi pembeli. Pendapatan turun tajam kalau dibanding saat pertama kali saya berjualan makanan di sini,” ucap Putri.
Kini, nasib pasar semimodern bergantung pada sinergi antara stimulus permodalan dari perbankan dan efektivitas kegiatan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang dijanjikan pemerintah.
Putri berharap, pemerintah dapat mencarikan solusinya agar pasar ramai pembeli. “Kami juga setuju kalau memang ada rencana apel OPD di area pasar, semoga bisa membantu para pedagang,” harapnya.
Editor: Erwin