Kepala BPS Kaltim, Mas’ud Rifai, mengungkapkan penurunan tersebut terutama dipicu anjloknya ekspor migas dalam periode bulanan.
“Penurunan terbesar terjadi pada sektor migas, sementara nonmigas relatif lebih stabil meskipun tetap mengalami koreksi,” ujarnya, Selasa (5/5/2026).
Secara rinci, ekspor migas pada Maret 2026 tercatat sebesar USD114,02 juta, atau turun tajam 50,18 persen dibandingkan Februari. Sementara ekspor nonmigas mencapai USD1.404,19 juta, turun 2,74 persen.
Secara kumulatif, nilai ekspor Kaltim selama Januari-Maret 2026 tercatat sebesar USD4.775,93 juta, atau mengalami penurunan 8,14 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025.
Dari sisi komoditas, terjadi lonjakan signifikan pada golongan pupuk yang naik USD42,38 juta atau 737,04 persen. Namun, peningkatan tersebut tidak mampu menahan penurunan tajam pada komoditas lemak dan minyak hewani/nabati yang turun USD124,08 juta atau 44,96 persen.
Mas’ud menjelaskan struktur ekspor Kaltim masih didominasi sektor pertambangan. Selama triwulan pertama 2026, komoditas hasil tambang berkontribusi sebesar 67,87 persen terhadap total ekspor.
“Industri pengolahan menyumbang 22,45 persen, sementara migas berada di posisi ketiga dengan kontribusi 9,61 persen,” jelasnya.
Dari sisi pasar, Tiongkok menjadi tujuan utama ekspor Kaltim dengan nilai USD1.549,43 juta atau 35,89 persen. Disusul India sebesar USD586,90 juta dan Filipina USD369,79 juta.
Sementara itu, berdasarkan pelabuhan muat, kontribusi terbesar berasal dari Pelabuhan Balikpapan dengan nilai USD382,76 juta, diikuti Pelabuhan Samarinda USD277,85 juta, dan Pelabuhan Bontang Bay sebesar USD 219,68 juta.
BPS menilai kondisi ini menunjukkan ketergantungan ekspor Kaltim terhadap komoditas tertentu masih tinggi, sehingga rentan terhadap fluktuasi pasar global. “Diversifikasi ekspor menjadi kunci untuk menjaga stabilitas kinerja ke depan,” tutupnya.
Editor: Erwin