Kepala OJK Kaltim dan Kaltara Misran Pasaribu mengungkapkan, hingga Februari 2026 kredit perbankan tumbuh 13,16 persen secara tahunan menjadi Rp109,20 Triliun, mencerminkan intermediasi perbankan tetap berjalan dan mampu menopang aktivitas ekonomi daerah.
“Secara umum kinerja perbankan masih terjaga dengan baik dan mendukung perekonomian regional,” kata Misran kepada Korankaltim.com Jumat (1/5/2026) hari ini.
Meski demikian struktur kredit masih perlu diperbaiki. Porsi kredit konsumtif, khususnya rumah tangga, tercatat mencapai Rp34,13 Triliun atau sekitar 31,26 persen dari total penyaluran. Kondisi ini menunjukkan daya beli masyarakat tetap kuat, tetapi belum sepenuhnya mendorong sektor produktif.
“Kami mendorong agar penyaluran kredit ke sektor produktif bisa terus ditingkatkan agar pertumbuhan ekonomi lebih berkualitas,” sebut Misran lagi.
Disisi lain, kredit berdasarkan lokasi penggunaan atau proyek tumbuh 7,51 persen menjadi Rp203,26 Triliun. Sektor pertambangan dan penggalian masih mendominasi, disusul sektor rumah tangga, pertanian, serta perdagangan besar dan eceran.
Dari sisi penghimpunan dana, Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat menurun 8,02 persen secara tahunan. Kendati demikian, likuiditas perbankan dinilai tetap aman karena posisi DPK masih lebih tinggi dibandingkan total kredit yang disalurkan.
“Likuiditas masih cukup memadai, sehingga ruang intermediasi perbankan tetap terbuka,” papar Misran.
Sementara itu, risiko kredit juga terjaga dengan rasio Non-Performing Loan (NPL) yang berada di bawah ambang batas 5 persen. Kredit investasi bahkan mencatat tingkat risiko paling rendah, yang dinilai menjadi peluang untuk memperkuat pembiayaan jangka panjang.
OJK menilai, stabilitas yang terjaga saat ini perlu diikuti dengan pergeseran arah kredit. Upaya tersebut dinilai penting agar sektor jasa keuangan tidak hanya stabil, tetapi juga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih produktif dan berkelanjutan di Kalimantan Timur.
Editor: Aspian Nur