Dalam rapat monitoring dan evaluasi (monev) yang digelar di Ruang Hevea Selasa (7/4/2026) hari ini, Plt Kepala Disbun Kaltim Ahmad Muzakkir menyebut situasi fiskal ke depan tidak bisa lagi dihadapi dengan pola lama yang boros dan kurang terukur. “Kegiatan tatap muka dibatasi, dan perjalanan dinas harus dikendalikan,” kata Muzakkir.
Langkah pengetatan ini bukan tanpa alasan. Dari total pagu anggaran Rp35,89 Miliar pada 2026, realisasi hingga akhir Maret baru mencapai Rp6,16 Miliar atau 17,18 persen. Angka ini masih tergolong wajar di awal tahun, namun menjadi sinyal kewaspadaan di tengah proyeksi penurunan anggaran tahun berikutnya.
Di sisi lain, sekitar 200 paket pengadaan senilai Rp4,45 Miliar juga tengah berjalan melalui berbagai skema. Namun, efektivitas belanja tetap menjadi perhatian agar tidak sekadar terserap, tetapi berdampak nyata.
Perencanaan 2027 harus disusun lebih ketat dan selektif. Seluruh bidang diminta melakukan evaluasi menyeluruh terhadap program yang dianggap tidak prioritas. “Seluruh bidang diminta melakukan telaahan ulang terhadap rencana kegiatan dan menyusun skala prioritas, termasuk skenario alokasi anggaran.,” tegas Muzakkir
Di balik isu anggaran, rapat ini juga membuka persoalan yang lebih dalam di sektor perkebunan. Mulai dari lemahnya basis data hingga belum optimalnya pemetaan lahan potensial yang selama ini menjadi dasar pengembangan komoditas. elain itu, ketimpangan juga terlihat dari sisi petani. Evaluasi terhadap harga tandan buah segar (TBS) kembali mengemuka, menyusul dorongan agar penetapan harga lebih berpihak kepada petani.
Tak hanya itu, Disbun Kaltim juga menyoroti masih rendahnya kepatuhan sebagian perusahaan perkebunan dalam memenuhi kewajiban pajak, seperti pajak alat berat dan pajak air permukaan. Padahal, sektor ini memiliki potensi besar dalam mendongkrak pendapatan daerah.
Sementara program yang bersumber dari Dana Bagi Hasil (DBH) Sawit masih tertahan, menunggu transfer dari pemerintah pusat. Kondisi ini berpotensi memperlambat sejumlah program strategis di daerah.
Dengan kombinasi tekanan fiskal, persoalan tata kelola, hingga ketimpangan di tingkat petani, sektor perkebunan Kaltim kini menghadapi ujian serius. Pemerintah daerah dituntut tak hanya mengencangkan ikat pinggang, tetapi juga membenahi akar masalah agar sektor unggulan ini tetap memberi manfaat luas bagi masyarakat.
Editor: Aspian Nur