Berdasarkan data Indeks Harga Konsumen (IHK), inflasi bulanan Kaltim tercatat sebesar 0,72 persen (mtm), naik dari Februari yang sebesar 0,60 persen. Secara tahunan, inflasi berada di level 3,31 persen (yoy), masih di bawah capaian nasional sebesar 3,48 persen.
“Tekanan inflasi pada Maret didominasi oleh kenaikan harga komoditas pangan strategis yang mengalami peningkatan permintaan signifikan selama HBKN,” ujar perwakilan TPID Kaltim.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi kontributor terbesar dengan inflasi 1,74 persen (mtm) dan andil 0,52 persen. Komoditas seperti cabai rawit, ikan tongkol, ikan layang, dan tomat mencatat lonjakan harga paling tinggi.
“Cabai dan ikan menjadi komoditas yang paling bergejolak karena pasokan yang terbatas di tengah permintaan yang meningkat,” jelasnya.
Di sisi lain, tekanan juga datang dari sektor transportasi yang mengalami inflasi 0,88 persen (mtm), didorong tingginya mobilitas masyarakat. Lonjakan penumpang membuat tarif angkutan udara ikut terkerek.
“Permintaan penerbangan meningkat tajam, terlihat dari okupansi yang tinggi hingga tambahan penerbangan langsung terserap,” tambahnya.
Penyesuaian harga BBM nonsubsidi turut memperkuat tekanan inflasi, khususnya pada komponen harga yang diatur pemerintah.
Meski tekanan meningkat, laju inflasi tidak melonjak lebih tinggi berkat penurunan harga sejumlah komoditas non-pangan. Emas perhiasan, parfum, tas sekolah, serta sayuran seperti sawi hijau dan kangkung menjadi penahan inflasi.
Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya bahkan mencatat deflasi 0,57 persen (mtm), yang turut meredam tekanan harga secara keseluruhan.
Merespons kondisi tersebut, TPID Kaltim mengintensifkan langkah pengendalian dengan memperbanyak operasi pasar dan gerakan pangan murah di berbagai daerah.
“Intervensi dilakukan untuk memastikan pasokan tetap tersedia dan harga tetap terjangkau bagi masyarakat,” tegasnya.
Sepanjang Maret, tercatat 83 kegiatan pengendalian telah digelar di sejumlah wilayah, dengan Samarinda menjadi daerah paling intensif pelaksanaan, disusul Kutai Kartanegara, Kutai Barat, Bontang, Mahakam Ulu, dan Berau.
TPID memastikan upaya stabilisasi akan terus diperkuat, terutama dalam menjaga pasokan dan distribusi pangan agar gejolak harga tidak berlanjut.
“Kami akan terus memperkuat mitigasi sejak dini agar tekanan inflasi bisa dikendalikan dan daya beli masyarakat tetap terjaga,” tutupnya.
Editor: Erwin