Berdasarkan pantauan di lapangan, sejumlah pedagang mengaku merasa terjebak dengan situasi yang tidak sesuai dengan janji di awal. Salah satu pedagang, Sayid mengungkapkan sebelumnya mereka diarahkan untuk berjualan di area pasar, namun kemudian dilarang dan dipindahkan ke lokasi saat ini.
“Bilangnya disuruh ke pasar, tapi di sana tidak dibolehkan. Di sini kita sudah minta izin, katanya sudah disetujui sama pimpinan, bahkan sampai ke bupati. Tapi nyatanya, kondisi di lapangan sangat jauh berbeda. Kami bayar sebesar Rp3 juta satu tenda,” ujar Sayid, Senin (8/3/2026).
Sayid yang sudah berjualan selama satu minggu di lokasi tersebut merasakan perbedaan mencolok dibandingkan Ramadan 2025 lalu. Pada Ramadan sebelumnya di hari ketiga sudah ramai pembeli terutama menjelang waktu berbuka, kali ini suasana justru senyap
“Tahun kemarin jam segini sudah ramai sekali. Sekarang sepi. Kadang seharian dari pagi sampai sore yang beli bisa dihitung jari,” lanjutnya.
Kekecewaan ini sebenarnya sudah sempat disuarakan oleh sejak awal kepindahan. Mereka merasa ada ketidaksesuaian perjanjian mengenai penempatan lapak. Meski sempat melayangkan protes ke pihak dinas maupun pengelola, para pedagang mengaku tidak punya pilihan lain selain tetap bertahan demi menghabiskan stok barang dagangan.
“Jadi ya tetap jualan saja di sini, mau bagaimana lagi. Padahal kita mulai jualan baru di hari keempat karena urusan izin yang panjang kemarin,” ungkapnya.
Sayid berharap ada solusi nyata atau evaluasi dari pihak terkait agar nasib mereka tidak semakin terpuruk hingga hari Lebaran tiba.
Editor: Erwin