Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Timur Jajang Hermawan menyampaikan bahwa secara tahunan inflasi Kaltim tercatat 4,64 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan nasional sebesar 4,76 persen (yoy). Inflasi tahun kalender berada di level 0,64 persen (ytd).
“Secara umum inflasi Kaltim masih terjaga dan berada dalam rentang yang terkendali, meskipun terdapat peningkatan permintaan selama Ramadan,” ujar Jajang.
Tekanan inflasi terutama bersumber dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mencatat inflasi 0,97 persen (mtm) dengan andil 0,29 persen.
Peningkatan konsumsi bahan pangan strategis serta momentum Imlek turut memicu kenaikan harga.
Selain itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi 2,66 persen (mtm) dengan andil 0,20 persen, didorong kenaikan harga emas perhiasan yang rata-rata mencapai Rp3.085.000 per gram.
Namun kenaikan tersebut tertahan oleh penurunan harga kelompok transportasi akibat turunnya harga BBM non-subsidi sekitar 3-4 persen pada awal Februari.
“Sinergi Tim Pengendalian Inflasi Daerah melalui strategi 4K terus kami perkuat, mulai dari gerakan pangan murah, operasi pasar, hingga koordinasi rutin dan High Level Meeting menjelang Idulfitri,” tegas Jajang.
Langkah antisipatif itu penting untuk memastikan stabilitas harga tetap terjaga dan daya beli masyarakat terlindungi di tengah meningkatnya aktivitas ekonomi.
Editor: Aspian Nur