Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Samarinda, Nurrahmani menjelaskan bahwa koordinasi teknis terkait hal tersebut tetap mengacu pada Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), mengingat kewenangan pembangunan gedung sejak awal berada di bawah instansi tersebut.
“Bangunan gedung sejak awal dibangun dengan PUPR, jadi secara teknis kita mengarah ke sana. Sudah kami komunikasikan juga dengan kontraktor,” ujar Nurrahmani yang akrab disapa Yama pada Rabu, (25/2/2026).
Yama memastikan desain penahan tempias telah disepakati. Model yang dipilih berupa sistem sliding samping serta atas-bawah dengan rangka aluminium dan penutup mika akrilik.
“Jadi bentuknya sudah oke, seperti sliding atas bawah. Bahannya aluminium, kemudian kacanya mika akrilik supaya tidak berat,” paparnya.
Rencananya, seluruh sisi dinding yang terdampak akan dipasangi sistem tersebut. Menurutnya, model sliding dipilih karena jauh lebih kokoh dibandingkan tirai berbahan besi yang sempat dipasang sebagai uji coba.
Tirai besi sebelumnya dinilai menimbulkan kebisingan saat diterpa angin kencang dan berpotensi terhambur, sementara sistem sliding dianggap lebih stabil dan praktis bagi pedagang.
“Kalau sliding dia akan bertahan. Pedagang pun bisa buka tutup dengan mudah,” imbuhnya.
Selain penanganan tempias, perbaikan struktur tangga yang pijakannya dinilai terlalu renggang juga dipastikan akan dikerjakan.
Meski desain telah final, Yama mengakui pihaknya belum menerima informasi resmi terkait Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA). Kendati Wali Kota Samarinda, Andi Harun sebelumnya menyebutkan anggaran berada di Disdag Samarinda, namun pekerjaan fisik bangunan selama ini berada di Dinas PUPR.
“Kalau memang DPA-nya di kami tentu siap kami kawal. Tapi sampai hari ini belum ada informasi resmi untuk segera memasukkan penganggaran,” katanya.
Kontraktor, lanjutnya, pada prinsipnya siap melaksanakan pekerjaan dan hanya tinggal menunggu penegasan lokasi penganggaran serta pelaksana teknis. Dalam waktu dekat, prototype sistem sliding direncanakan terpasang di lantai dua atau tiga sebagai percontohan.
“Kebutuhan anggaran ke PUPR karena kita tidak tahu sisa berapa. Tapi kalau memang dititipkan ke kami anggarannya, kami siap,” tandasnya.
Editor: Erwin