Camat Long Apari Petrus Ngo menjelaskan, permasalahan tersebut bukan hal baru dan hampir selalu terulang setiap kali debit air sungai menurun.
Sebagai wilayah yang masih bergantung pada jalur transportasi sungai, kemarau menjadi tantangan serius bagi masyarakat perbatasan.
“Ini sangat sering terjadi ketika kemarau. Kami di tingkat kecamatan hanya bisa menyampaikan keluhan masyarakat kepada pemerintah kabupaten, provinsi, hingga pusat, agar kondisi di wilayah perbatasan benar-benar diperhatikan,” ujar Petrus kepada awak media, Kamis, (5/2/2026).
Kemarau berdampak langsung pada distribusi sembilan bahan pokok (sembako). Pasokan menjadi terbatas dan harga ikut melonjak di tingkat masyarakat. Untuk komoditas beras, harga beras kemasan 20 kilogram sempat menembus Rp850 Ribu hingga Rp1 Juta untuk kualitas premium, sementara beras medium berada di kisaran Rp650 Ribu per sak.
Selain beras, harga gula pasir juga sempat naik hingga Rp25 Ribu per kilogram. BBM eceran di luar APMS dijual di kisaran Rp20 Ribu hingga Rp25 Ribu per liter sementara harga tabung gas mencapai Rp850 Ribu.
“Kondisi alam membuat distribusi sembako mahal dan terbatas. Mudah-mudahan dalam waktu dekat debit air kembali normal sehingga pasokan bisa lancar seperti biasa,” papar Petrus.
Untuk BBM stok di APMS relatif terbatas sehingga pihak pengelola memberlakukan pembatasan pembelian, yakni lima liter per kepala keluarga. Meski demikian, berdasarkan hasil rapat dengar pendapat bersama DPRD dan pengelola APMS, stok BBM untuk dua kecamatan di wilayah hulu masih dalam kondisi aman.
“Hanya saja kendalanya di pengangkutan. Karena kemarau, distribusi ke wilayah hulu masih mengandalkan longboat, jadi tetap terhambat,” sebutnya.
Pembangunan infrastruktur jalan menuju wilayah perbatasan diharapkan segera terealisasi. Dengan akses darat yang memadai, distribusi logistik tidak lagi sepenuhnya bergantung pada kondisi sungai.
“Kalau akses jalan sudah bagus, saat kemarau pun distribusi bisa tetap berjalan. Kejadian seperti ini tidak perlu terus berulang,” ucap Petrus.
Ditengah keterbatasan masyarakat Long Apari mulai sedikit terbantu dengan masuknya masa panen padi ladang di sejumlah kampung pada akhir Januari. Namun pemerataan pembangunan tetap menjadi kunci agar masyarakat perbatasan tidak selalu berada dalam kondisi rentan.
“Ketika pembangunan benar-benar menyentuh masyarakat perbatasan, di situlah kami merasakan makna kemerdekaan yang sesungguhnya,” pungkas Petrus.
Editor: Aspian Nur