Meski produksi tahun ini tidak maksimal, aktivitas jual beli durian tetap ramai dengan pembeli yang datang langsung ke kampung maupun ke kebun untuk berburu durian lokal yang dikenal memiliki kualitas rasa khas.
Salah satu pemilik kebun durian Intu Lingau, Camdianto, mengatakan antusiasme pembeli pada musim panen tahun ini relatif stabil. Menurutnya, durian Intu Lingau tetap dicari karena dipanen secara alami dan memiliki cita rasa yang sudah dikenal.
“Kalau pembeli tetap ramai. Mereka sudah tahu rasa durian di sini, jadi walaupun panennya tidak terlalu banyak, tetap dicari,” ujarnya kepada Korankaltim.com, Selasa (27/1/2026).
Durian di Kampung Intu Lingau dipasarkan dengan sistem klasifikasi berdasarkan ukuran dan kualitas buah. Untuk kualitas A, durian dijual seharga Rp35 ribu per buah. Kualitas B dibanderol Rp25 ribu per buah, sedangkan kualitas C dijual Rp15 ribu per buah.
Selain itu, terdapat durian kategori D atau yang oleh warga setempat disebut durian kelereng, yakni durian berukuran kecil. Untuk kategori ini, durian dijual dua buah seharga Rp15 ribu atau sekitar Rp7.500 per buah.
Harga tersebut menjadi yang termurah bagi pembeli yang datang langsung ke petani atau pemilik kebun.
Menurut Camdianto, harga durian tahun ini tergolong lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Hal itu dipengaruhi panen yang tidak terjadi secara serentak di seluruh wilayah Kubar, sehingga pasokan durian di pasaran tidak menumpuk dalam waktu bersamaan.
“Dulu kalau panen serentak di Kubar, stok durian sangat melimpah dan harga langsung turun. Untuk kualitas A pernah cuma Rp15 ribu per buah, bahkan yang paling murah Rp5 ribu. Tahun ini karena panennya tidak barengan, harga masih lumayan bertahan,” jelasnya.
Hampir seluruh warga Kampung Intu Lingau memiliki kebun durian yang menjadi sumber penghasilan musiman, dengan potensi pendapatan mencapai puluhan juta rupiah dalam satu musim panen, tergantung jumlah dan kualitas buah.
Salah satu pembeli yang datang langsung, Mardan, mengaku membeli durian dalam jumlah banyak untuk dijadikan oleh-oleh dan dikirim ke Samarinda.
Ia memilih durian Intu Lingau karena kualitas rasa sekaligus harga yang dinilai lebih terjangkau jika dibeli langsung dari petani.
“Rasanya manis legit, dagingnya lembut dan berserat halus. Durian yang matang alami dari pohon ini ada pahit tipis di lidah,” ujar Mardan.
Akses menuju Kampung Intu Lingau juga relatif mudah dan dapat ditempuh melalui jalur darat. Dari Barong Tongkok, perjalanan menuju kampung tersebut memakan waktu sekitar dua jam, sehingga pembeli dari luar daerah tidak ragu datang langsung untuk membeli durian dari petani setempat.
Editor: Erwin