Disatu sisi, kondisi ini menekan struktur biaya produksi, namun di sisi lain masih membuka peluang bagi kinerja ekspor.
Sekretaris Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia Kalimantan Timur (GAPKI Kaltim) Nofriansyah menjelaskan, fluktuasi nilai tukar sangat memengaruhi biaya operasional perusahaan sawit. Sejumlah input penting, seperti pupuk, pestisida, dan suku cadang alat berat, masih bergantung pada impor sehingga harganya ikut terdorong naik ketika rupiah melemah.
“Kenaikan biaya produksi menjadi tantangan utama. Ini tidak hanya dirasakan perusahaan besar, tetapi juga berdampak pada petani plasma dan swadaya yang ikut dalam rantai pasok sawit,” kata Nofri kepada Korankaltim.com, Jumat (23/1/2025).
Meski demikian Nofriansyah menilai pelemahan rupiah tidak selalu berdampak negatif terhadap kinerja ekspor. Secara harga, CPO Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar internasional karena nilai tukarnya lebih murah ketika dikonversi ke mata uang asing.
“Dari sisi ekspor, ada peluang peningkatan daya saing. Namun efeknya tidak otomatis besar, karena tetap bergantung pada kapasitas produksi dan permintaan global,” jelasnya.
GAPKI Kaltim mendorong pelaku usaha untuk memperkuat efisiensi dan manajemen biaya agar dampak negatif dari fluktuasi kurs bisa ditekan. Selain itu, penguatan industri hulu, termasuk ketersediaan pupuk dalam negeri, dinilai menjadi langkah strategis jangka panjang.
“Stabilitas industri sawit tidak bisa hanya bergantung pada kondisi nilai tukar. Perlu kebijakan yang mendukung efisiensi dan ketahanan produksi,” pungkas Nofri.
Editor: Aspian Nur