Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Timur, Yusniar Juliana, mengatakan penurunan tersebut dipicu oleh pergerakan harga yang tidak seimbang antara pendapatan dan pengeluaran petani.
“Harga yang diterima petani memang naik, tetapi kenaikannya sangat kecil. Sementara itu, harga barang dan jasa yang harus dibayar petani justru naik lebih tinggi,” ujar Yusniar.
Ia ada Desember 2025 Indeks Harga yang Diterima Petani hanya meningkat 0,13 persen, sedangkan Indeks Harga yang Dibayar Petani naik 0,43 persen. Kondisi ini menyebabkan daya beli petani melemah dibandingkan bulan sebelumnya.
Menurut Yusniar, kondisi NTP petani di Kaltim masih beragam antar subsektor. Petani hortikultura dan peternakan masih mencatatkan perbaikan, sementara beberapa subsektor lain justru mengalami penurunan.
“Subsektor hortikultura dan peternakan masih menunjukkan kenaikan. Namun, petani tanaman pangan, perkebunan rakyat, serta nelayan dan pembudidaya ikan mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya,” jelasnya.
Selain NTP, Yusniar juga menyoroti perkembangan Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) yang mengalami penurunan tipis.
“NTUP Desember 2025 tercatat sebesar 153,93 atau turun 0,13 persen. Ini menunjukkan keuntungan usaha pertanian sedikit menurun, terutama pada subsektor perkebunan rakyat dan perikanan,” katanya.
Meski demikian, Yusniar menegaskan masih ada subsektor yang mampu bertahan di tengah tekanan biaya.
“Usaha tani hortikultura dan peternakan masih mengalami peningkatan, meskipun tantangan biaya produksi tetap perlu menjadi perhatian,” pungkasnya.
Editor Aspian Nur