Akbar (68), salah seorang warga Desa Perjiwa, hingga kini masih setia mengolah air aren menjadi gula merah. Setiap hari, ia mengumpulkan air aren dari pohon-pohon yang disadap, kemudian memasaknya dengan cara tradisional hingga mengental dan dicetak menjadi gula merah siap jual.
Aktivitas tersebut bukanlah hal baru bagi Akbar. Ia mengaku telah menjalani pekerjaan ini selama puluhan tahun, bahkan sejak usia muda, dengan mengikuti jejak orang tuanya. Tradisi pembuatan gula merah ini pun telah berlangsung secara turun-temurun dalam keluarganya.
“Ini sudah dari orang tua dulu. Saya hanya meneruskan,” ungkap Akbar kepada Korankaltim.com, Senin (5/1/2026).
Menariknya, dalam proses produksi, Akbar masih menggunakan peralatan tradisional peninggalan nenek moyangnya. Cetakan gula merah yang digunakan terbuat dari kayu ulin dan telah berusia puluhan tahun, namun hingga kini masih kokoh dan berfungsi dengan baik.
Gula merah hasil olahan Akbar dikenal memiliki cita rasa khas dan alami. Ia memastikan produknya dibuat murni dari air aren tanpa campuran bahan lain, berbeda dengan sebagian gula merah yang beredar di pasaran dan dicampur dengan gula pasir.
Keberadaan pengrajin gula merah tradisional seperti Akbar menjadi bukti bahwa kearifan lokal dan usaha berbasis tradisi masih mampu bertahan di tengah perubahan zaman.
Selain menjaga warisan budaya, aktivitas ini juga menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat desa. Selain sebagai pemanis alami, gula merah juga kerap dianggap memiliki manfaat kesehatan.
Akbar menyebut gula merah aren dinilai lebih sehat dibandingkan gula tebu olahan dan dipercaya tidak berdampak buruk bagi kadar gula darah jika dikonsumsi secara wajar.
Untuk satu keping gula merah, Akbar mematok harga Rp20 ribu. “Meski diproduksi secara tradisional, permintaan terhadap gula merah cukup banyak, terutama dari warga sekitar sini yang menginginkan produk alami,” demikian Akbar.
Editor: Erwin