Harga CPO Melemah, Pemprov Kaltim Dorong Kemitraan Petani Sawit
1 menit baca0 kali dibaca

Penulis: */M Rafik
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA – Fluktuasi harga komoditas global kembali menekan pendapatan petani kelapa sawit di Kalimantan Timur (Kaltim).
Penurunan harga tandan buah segar (TBS) pada paruh pertama Desember menjadi sinyal bahwa posisi petani masih sangat rentan terhadap gejolak pasar minyak sawit dunia.
Plt Kepala Dinas Perkebunan Kaltim, Ahmad Muzakkir menyebut koreksi harga TBS tidak bisa dilepaskan dari melemahnya harga crude palm oil (CPO) dan inti sawit (kernel) yang menjadi komponen utama pembentuk harga di tingkat pabrik.
Tekanan tersebut langsung berdampak pada nilai jual TBS yang diterima petani, terutama mereka yang menggantungkan pendapatan harian dari hasil panen.
Harga rata-rata tertimbang CPO tercatat berada di kisaran Rp13 ribuan per kilogram, sementara kernel berada di level Rp11 ribuan per kilogram, dengan indeks K di bawah 90 persen.
Dalam kondisi ini, Muzakkir menekankan skema kemitraan antara petani dan pabrik kelapa sawit menjadi faktor penting untuk menjaga stabilitas harga di tingkat kebun. Harga TBS yang ditetapkan pemerintah daerah berlaku sebagai standar bagi petani plasma yang telah bermitra secara resmi.
Berdasarkan usia tanaman, harga TBS tertinggi tercatat pada sawit umur produktif di atas sembilan tahun, sementara sawit muda berada pada level harga lebih rendah. Skema ini dinilai mencerminkan kualitas dan rendemen yang dihasilkan masing-masing umur tanaman.
Menurutnya, kemitraan petani dengan pabrik minyak sawit (PMS) tidak hanya berfungsi sebagai penentu harga, tetapi juga sebagai perlindungan dari praktik permainan harga oleh tengkulak yang kerap merugikan petani mandiri.
“Melalui kerja sama yang jelas dan transparan, petani bisa mendapatkan harga yang lebih wajar dan berkelanjutan,” tegasnya.
Pemprov Kaltim berharap pola kemitraan ini dapat diperluas agar petani sawit tidak terus berada di posisi lemah setiap kali harga CPO global bergejolak, sekaligus mendorong peningkatan kesejahteraan kelompok tani sawit di daerah.
Editor: Erwin










