Sejak perpindahan pada Mei lalu, kondisi pasar perlahan berbenah, meski dampaknya terhadap omzet belum dirasakan merata oleh seluruh pedagang.
Salah satu perubahan yang cukup dirasakan adalah akses jalan di kawasan pasar. Jika pada awal relokasi kondisi jalan masih kurang memadai, kini jalur menuju area pasar telah perbaiki sehingga memudahkan pengunjung maupun aktivitas bongkar muat pedagang.
Kasira (49), pedagang sayur yang sebelumnya berjualan di Pasar Subuh menilai kondisi berdagang di Beluluq Lingau relatif stabil. Ia mengaku omzetnya tidak jauh berbeda dibanding sebelumnya.
“Stabil saja omzet di sini. Lebih enak tempatnya, kalau di Pasar Subuh kan kalau hujan pasang tenda. Di sini fasilitasnya ada semua, ada air, lampu, toilet,” ujar Kasira, Senin, (15/12/2025).
Menurut Kasira, retribusi harian yang dibayarkan juga tergolong ringan, yakni Rp4 ribu rupiah per hari. Kendala utama justru dirasakan pada awal perpindahan, ketika pengunjung masih sepi karena pasar dinilai masih merintis.
“Waktu pertama pindah memang sepi. Tapi makin lama mulai stabil seperti di Pasar Subuh,” katanya.
Ia menambahkan, untuk menarik pengunjung, sempat digelar bazar murah oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda selama tiga hari pada awal relokasi. Saat ini, keramaian pasar mulai terasa terutama pada akhir pekan.
“Di sini ramai biasanya Jumat, Sabtu, Minggu. Kalau di Pasar Subuh, hari Senin juga sering sepi,” ucapnya.
Kasira mengaku telah berjualan sayur selama sekitar 10 tahun di Pasar Subuh. Jam operasionalnya pun cukup panjang, mulai pukul 06.00 pagi hingga sore hari, bahkan kadang hingga pukul 15.00 atau 17.00.
Namun kondisi berbeda dirasakan M Idris (63), pedagang telur dan tahu. Ia mengaku omzetnya justru mengalami penurunan signifikan sejak pindah ke Beluluq Lingau. “Sekarang sisa sekitar 30 persen saja. Turunnya sampai 60 persen sejak pindah,” keluhnya.
Meski demikian, Idris tidak mempersoalkan fasilitas pasar. Menurutnya, dari sisi kenyamanan, Beluluq Lingau jauh lebih baik dibanding Pasar Subuh. “Kalau fasilitas nyaman saja di sini. Tapi dari segi jualan jauh turun,” katanya.
Ia mencontohkan, saat masih berjualan di Pasar Subuh, penjualan tahu bisa mencapai dua hingga tiga kaleng per hari. Kini, satu kaleng pun kerap tidak habis terjual. “Kadang malah jual rugi juga. Sama saja, sepi,” ujarnya.
Idris mengaku telah berjualan di Pasar Subuh selama lebih dari 30 tahun, sejak 1992. Ia tinggal di kawasan Lambung Mangkurat dan harus menempuh jarak lebih jauh setiap hari untuk berdagang di Beluluq Lingau. “Kalau ke sini lebih jauh. Tiap hari bolak-balik,” pungkasnya.
Editor: Erwin