Sejak awal, Diskumi Samarinda berperan membawa produk UKM untuk melalui proses kurasi ketat, mulai dari kualitas rasa, konsep display, hingga strategi pemasaran. Produk yang lolos seleksi daerah kemudian kembali disaring oleh PT Sarinah dengan standar ritel nasional.
PT Sarinah menilai UKM Samarinda sebagai pionir daerah yang berani melakukan ekspansi lewat program Pemasaran Produk Orang Samarinda atau Prorinda, sebuah skema pendampingan yang digagas Diskumi Samarinda.
Dalam praktiknya, produk asal Samarinda tampil menonjol dengan karakter yang berbeda dibanding daerah lain. Dominasi produk Samarinda di etalase lantai empat Sarinah dinilai sebagai capaian yang jarang terjadi.
Apalagi, Sarinah tidak hanya berfungsi sebagai ruang jual beli, tetapi juga menghadirkan pengalaman belanja berbasis cerita dan budaya.
“Kami mengangkat storytelling dan experience dan selalu kami kaitkan dengan produk UMKM,” ujar Consignment Vendor Division Head PT Sarinah Dyhart Putri Mentari.
Standar yang diterapkan Sarinah setara dengan sistem ritel nasional. Dengan pendampingan yang tepat dari pemerintah daerah, UKM Samarinda dinilai mampu naik kelas hingga menembus pasar global.
Produk asal Samarinda bahkan pernah dipamerkan di Amsterdam setelah memenuhi standar tersebut.
“Penjualan bisa Rp7 sampai Rp8 juta per bulan, bahkan pernah tembus Rp10 juta per bulan,” ujarnya.
Mentari menegaskan, konsistensi stok dan kualitas menjadi syarat utama agar produk mampu bertahan di pasar premium. Produk yang baik tetapi tidak mampu menjaga ketersediaan dinilai sulit berkembang.
Hasilnya, performa penjualan produk UKM Samarinda di Mal Sarinah menunjukkan tren positif. Salah satu produk yang diajukan Diskumi Samarinda mencatatkan penjualan hingga Rp86 juta dengan pertumbuhan sekitar 25 persen, untuk produk di kisaran harga Rp40 ribu.
Sekitar 80 persen produk unggulan Kota Tepian yang dipasarkan di Sarinah berasal dari kategori makanan, terutama snack dan sambal. Varian sambal khas haruan, cumi, dan cakalang menjadi daya tarik utama bagi konsumen.
“Saat kami buka store baru di kawasan PIK, sambal Samarinda langsung menarik perhatian,” ujar Mentari.
Selain sambal, madu murni dengan kemasan premium, keripik pisang dengan volume penjualan hingga 250 kemasan per paket, serta teh bunga telang juga mencatat penjualan tinggi, bahkan masuk jajaran produk terlaris dengan penjualan lebih dari 200 kemasan.
“Kami sangat berharap banyak pemerintah mencontoh Pemkot Samarinda, karena UKM-nya benar-benar diurus,” ucapnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Pemberdayaan Usaha Mikro Diskumi Samarinda Muhammad Rizal mengatakan, kolaborasi dengan Sarinah telah terbangun sejak 2023 dan terus dievaluasi secara berkala.
Ke depan, pihaknya juga akan mengkurasi produk kopi khas Samarinda untuk masuk etalase Sarinah dengan penekanan pada kemasan dan identitas lokal.
“Sarinah Thamrin dan TMII fokus ke segmen itu. Kurasi akan terus dilakukan agar produk tetap relevan dengan pasar Sarinah,” pungkasnya.
Editor: Erwin