Kepala BPS Kaltim, Yusniar Juliana, mengatakan bahwa kenaikan impor secara bulanan memang terlihat signifikan, terutama pada komoditas nonmigas yang melonjak lebih dari 22 persen. Namun jika dilihat secara tahunan, impor justru merosot tajam hingga 37 persen.
“Pergerakan ini menunjukkan adanya perubahan perilaku industri. Secara bulanan, aktivitasnya bergerak, tetapi secara tahunan kita melihat penyesuaian skala dan pengetatan kebutuhan barang impor,” kata Yusniar.
Ia menyebut lonjakan bulanan lebih banyak dipicu oleh permintaan barang konsumsi menjelang akhir tahun, yang naik hampir dua kali lipat. Sementara kebutuhan inti industri seperti barang modal dan bahan baku justru mengalami penurunan dalam skala tahunan.
Data BPS menunjukkan penurunan barang modal mencapai hampir 50 persen dibanding Oktober 2024. Bahan baku dan penolong juga turun 36 persen lebih, mencerminkan strategi industri yang kini lebih berhati-hati dalam belanja impor.
“Ini bukan semata penurunan aktivitas, tetapi bagian dari pola efisiensi. Industri sedang mengatur ulang kebutuhan produksinya,” jelas Yusniar.
Meski demikian, struktur impor Kaltim masih sangat didominasi bahan baku dengan porsi lebih dari 94 persen dari total impor. Artinya, ketergantungan industri Kaltim terhadap bahan pendukung impor masih tinggi dan belum mengalami perubahan signifikan.
Dari sisi mitra dagang, Tiongkok tetap menjadi pemasok utama dengan kontribusi lebih dari seperempat impor nonmigas. Jerman, Amerika Serikat, dan negara-negara ASEAN juga mencatat peran stabil yang menunjukkan hubungan dagang regional dan global masih terjaga.
BPS menilai tren impor ini dapat menjadi indikator awal untuk melihat arah perkembangan industri di Kaltim memasuki tahun berjalan apakah kembali masuk fase ekspansi atau terus memperkuat efisiensi.
Editor: Erwin