Pelaksana Harian Kepala Perwakilan BI Kaltim, Bayuadi Hardiyanto, mengungkapkan bahwa fondasi ekonomi Kaltim memasuki fase baru yang menuntut ketahanan lebih kuat, terutama karena ketergantungan pada komoditas migas dan batu bara tidak lagi mampu menjamin pertumbuhan tinggi dalam jangka panjang.
“Sinergi kebijakan bukan hanya seremonial koordinasi, tapi upaya konkret menjaga stabilitas ekonomi Kaltim di tengah tekanan global dan transisi energi,” tegas Bayuadi.
Dalam proyeksi BI, permintaan batu bara global tahun depan diperkirakan masih tertahan seiring semakin kuatnya tekanan negara-negara besar untuk beralih ke energi terbarukan.
Kondisi itu diperkirakan berimbas pada kinerja ekspor Kaltim yang selama ini ditopang komoditas energi.
Selain itu, gejolak iklim berpotensi menghambat produktivitas pertanian, sementara harga emas dan minyak dunia terus menunjukkan tren naik situasi yang dapat mendorong inflasi.
Meski demikian, BI tetap memproyeksikan inflasi Kaltim 2026 berada dalam sasaran nasional 2,5±1 persen, dengan catatan koordinasi TPID terus diperkuat.
BI memperkirakan ekonomi Kaltim tahun 2026 tumbuh di kisaran 4,50 persen – 5,30 persen didorong oleh peningkatan kapasitas industri refinery migas, proyek strategis daerah yang terus berjalan, serta investasi yang kembali menguat.
Bayuadi menegaskan kolaborasi kebijakan menjadi faktor kunci agar pertumbuhan tersebut tidak hanya terjadi di atas kertas, tetapi benar-benar dirasakan masyarakat.
Asisten II Setprov Kaltim, Ujang Rachmad, yang mewakili Sekda Kaltim, menegaskan keberhasilan pembangunan ekonomi daerah tidak dapat bertumpu pada satu institusi.
“Tidak ada pertumbuhan yang berkelanjutan tanpa kolaborasi pemerintah pusat, daerah, BI, pelaku usaha, perbankan, hingga akademisi,” ujarnya.
Ujang menekankan pentingnya memastikan setiap potensi ekonomi Kaltim termasuk di sektor non-komoditas dioptimalkan agar Kaltim tidak terus bergantung pada ekspor energi mentah.
Pada momen PTBI pusat, Kaltim meraih empat penghargaan TPID dan TP2DD terbaik. Namun bagi BI Kaltim, penghargaan tersebut bukan tujuan utama melainkan indikasi bahwa koordinasi berjalan, tetapi masih perlu diperkuat menghadapi tantangan ekonomi 2026.
Editor: Erwin