Kepala BPS Kaltim Yusniar Juliana menjelaskan, kenaikan inflasi kali ini bersumber dari dua kelompok utama, yakni komoditas pangan dan barang bernilai investasi seperti emas perhiasan.
“Kenaikan harga emas perhiasan memberi andil terbesar terhadap inflasi tahun ini, disusul oleh beberapa komoditas pangan seperti beras, ikan layang, dan minyak goreng,” ujarnya dalam rilis resmi, Senin (3/11/2025).
Berdasarkan data BPS, emas perhiasan menyumbang 0,70 persen terhadap inflasi tahunan Kaltim, sementara kelompok makanan, minuman, dan tembakau berkontribusi 1,10 persen dengan inflasi mencapai 3,74 persen.
Kenaikan harga emas tersebut turut membuat kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi tinggi hingga 12,13 persen.
Secara spasial, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) menjadi wilayah dengan tekanan inflasi tertinggi, mencapai 2,47 persen dengan IHK 108,47. Kondisi ini dipengaruhi oleh meningkatnya aktivitas ekonomi di kawasan penyangga Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara, yang memicu permintaan barang dan jasa lokal.
“Aktivitas pembangunan dan perputaran ekonomi di sekitar IKN berdampak langsung pada harga-harga di PPU. Ini menjadi perhatian serius karena berpotensi menekan daya beli masyarakat,” tambah Yusniar.
Sebaliknya, Kabupaten Berau mencatat inflasi terendah di Kaltim, yakni 1,78 persen. Adapun inflasi bulanan (month-to-month) di tingkat provinsi relatif stabil di 0,01 persen, dengan inflasi tahun berjalan (year-to-date) sebesar 1,55 persen.
Selain emas dan pangan, sektor pendidikan turut mengalami inflasi 2,80 persen karena kenaikan biaya sekolah dan perguruan tinggi. Kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran juga naik 1,66 persen, terutama pada komoditas nasi lauk dan kue kering berminyak.
Meski begitu, tekanan inflasi sedikit tertahan oleh deflasi di sektor transportasi dan pakaian. Tarif angkutan udara turun signifikan hingga menekan inflasi transportasi sebesar 1,43 persen, sementara pakaian dan alas kaki terkoreksi 1,15 persen, mencerminkan daya beli masyarakat yang lebih berhati-hati untuk barang sekunder.
Yusniar menilai, kondisi inflasi saat ini menggambarkan tantangan pengendalian harga yang lebih kompleks menjelang akhir tahun.
“Tekanan harga pangan dan emas menunjukkan bahwa daya beli masyarakat berpotensi tergerus, meski masih dalam kisaran inflasi yang terkendali. Pemerintah daerah perlu menjaga ketersediaan pasokan agar lonjakan harga tidak berlanjut,” pungkasnya.
Dengan dinamika tersebut, inflasi Kaltim kini menjadi indikator penting bagi stabilitas ekonomi di kawasan penyangga IKN. Konsistensi pengendalian harga dan koordinasi lintas sektor dinilai menjadi kunci agar inflasi tetap terkendali di tengah tekanan global dan domestik.
Editor: Erwin