Pertumbuhan ekonomi Kaltim diproyeksikan mencapai 4,80 hingga 5,60 persen (yoy), sementara inflasi tetap terjaga di kisaran target sasaran 2,5 plus minus 1 persen.
Kepala Kantor Perwakilan BI Kaltim, Budi Widhihartanto, menjelaskan bahwa secara umum, ekonomi Kaltim pada 2025 akan ditopang oleh aktivitas industri pengolahan, investasi swasta, serta peningkatan produksi komoditas unggulan daerah seperti kelapa sawit dan batu bara.
“Produksi tandan buah segar (TBS) sawit diperkirakan meningkat karena curah hujan dan pemupukan yang lebih baik sejak 2024. Di sisi lain, sektor energi juga akan mendapat dorongan besar dari proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) RU V Balikpapan yang memasuki tahap akhir,” ujar Budi, Kamis (9/10/2025).
Proyek RDMP Balikpapan diperkirakan selesai pada akhir 2025 dengan tambahan kapasitas pengolahan minyak mentah sebesar 50 ribu barel per hari (bph), peningkatan produksi BBM hingga 12 ribu bph, serta tambahan produksi LPG 150 ribu ton dan petrokimia baru sebanyak 100 ribu ton per tahun.
Namun, Budi juga menyoroti kondisi ekonomi daerah saat ini yang cukup tertekan akibat berkurangnya transfer fiskal pusat. Pemangkasan DBH yang sebelumnya mencapai sekitar Rp7 triliun pada 2024 menjadi hanya Rp1,6 triliun di 2025, sementara untuk Dana Alokasi Khusus (DAK) sebesar Rp886 miliar, sehingga akumulasi total dana Transfer ke Daerah (TKD) ke Provinsi Kaltim sebesar Rp2,49 triliun. Hal ini pun berdampak signifikan terhadap belanja daerah dan daya dorong ekonomi.
“Pemangkasan DBH tentu berpengaruh terhadap belanja modal dan konsumsi pemerintah daerah. Ruang fiskal menjadi terbatas, sehingga kontribusi sektor publik terhadap pertumbuhan ekonomi berpotensi menurun,” jelas dia.
Meski begitu, investasi swasta diperkirakan tetap kuat. Data Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) menunjukkan nilai investasi swasta di Kaltim pada 2025 bisa mencapai Rp79,86 triliun, meningkat dari tahun sebelumnya sebesar Rp76,3 triliun.
Dari sektor konstruksi, Bank Construction Index (BCI) memperkirakan nilai proyek konstruksi sepanjang 2025 mencapai Rp43,5 triliun, namun terkontraksi 44,2 persen (yoy) dibandingkan 2024 yang tumbuh 63 persen. Moderasi juga terjadi pada pembangunan IKN karena pagu anggaran tahun ini lebih rendah dibanding tahun sebelumnya.
“Kondisi ini membuat aktivitas perdagangan dan jasa terkait konstruksi melambat. Beberapa pusat perbelanjaan juga mencatat penurunan aktivitas tenant di tahun ini,” katanya.
Dari sisi ekspor, prospek Kaltim masih cukup menjanjikan berkat peningkatan pengiriman produk industri pengolahan seperti smelter dan petrokimia. Namun, permintaan batu bara dari negara mitra utama seperti Tiongkok dan India mulai menurun seiring perluasan kapasitas tambang domestik dan peralihan menuju energi terbarukan.
Sementara itu, Kementerian ESDM menargetkan Domestic Market Obligation (DMO) batu bara nasional tahun 2025 sebesar 239,7 juta ton, lebih tinggi dibanding target tahun 2024 sebesar 181,3 juta ton.
Di sisi lain, efisiensi anggaran pemerintah sebagai tindak lanjut Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2025 juga menahan konsumsi pemerintah, terutama di semester pertama tahun ini.
“Kami tetap optimistis karena sektor-sektor penyerap tenaga kerja terbesar seperti perdagangan, pertambangan, dan konstruksi masih aktif. Stabilitas ketenagakerjaan tetap bisa terjaga meski ada tekanan fiskal,” tutur Budi.
Dengan kondisi tersebut, BI Kaltim menilai 2025 akan menjadi tahun penyesuaian penting bagi ekonomi daerah. Ketahanan ekonomi akan sangat bergantung pada kekuatan sektor swasta, hilirisasi industri, serta kemampuan daerah menjaga stabilitas fiskal di tengah berkurangnya DBH dan moderasi proyek IKN.
Editor: Erwin