Kepala Bidang Pengembangan Ekraf Dinas Pariwisata (Dispar) Kaltim Awang Khalik menyebut kalua ekraf hadir sebagai alternatif di era pasca-ekstraktif, sekaligus menjadi sektor strategis dalam penciptaan nilai tambah, pelestarian budaya, dan pemberdayaan generasi muda.
Ekraf merupakan bentuk pengolahan ide atau gagasan berbasis ilmu pengetahuan, teknologi, keterampilan serta warisan budaya yang melahirkan nilai ekonomi.
Sektor ini mencakup berbagai subsektor, mulai dari kuliner, fashion, kriya, seni pertunjukan, musik, film hingga aplikasi permainan.
“Ekonomi kreatif tidak hanya menghasilkan nilai ekonomi, tapi juga menjaga identitas lokal, melestarikan budaya, dan menyiapkan ruang bagi generasi muda yang kreatif di era digital,” ujar Awang kepada Korankaltim.com Kamis (11/9/2025).
Pemprov Kaltim telah menyiapkan peta jalan pengembangan ekraf 2026–2030 yang memetakan potensi, tantangan, dan peluang serta menyusun strategi prioritas untuk delapan tahun ke depan.
Melalui peta jalan ini, pemerintah menargetkan terbentuknya ekosistem kreatif yang terintegrasi, berdaya saing, dan mampu berkontribusi signifikan bagi perekonomian daerah. Peta jalan ini merupakan kelanjutan dari program sebelumnya pada 2021–2025.
Dari hasil evaluasi, sejumlah target berhasil dicapai, mulai dari penyediaan ruang kreasi, permodalan, hingga fasilitasi hak kekayaan intelektual (HKI) bagi pelaku ekraf.
“Koherensi antara rencana aksi 2021–2025 dengan peta jalan baru ini sangat baik. Data dan pemetaan yang dihimpun dari 10 kabupaten/kota menjadi dasar dalam menyusun strategi yang lebih konkret,” jelasnya.
Saat ini, Kaltim termasuk dalam 15 daerah prioritas pengembangan ekraf nasional. Bahkan, rencana pembangunan UPT Ekraf telah masuk dalam agenda 2024 sebagai bukti bahwa sektor ini tidak lagi dipandang sebelah mata.
Awang mengingatkan pentingnya dukungan kabupaten/kota agar pengembangan ekraf berjalan berkesinambungan. Saat ini, belum semua daerah di Kaltim memiliki nomenklatur khusus yang mengurus ekraf. Selain itu, kolaborasi multipihak juga dinilai krusial.
Tantangannya adalah bagaimana pelaku bisa mendekati pasar tersebut dengan inovasi, transfer pengetahuan, dan model bisnis yang tepat.
“Di ruang-ruang kreasi itu, anak muda bisa bertemu, berbagi pengalaman, hingga membangun startup. Sementara yang sudah mapan bisa menjadi mentor,” pungkasnya.
Editor: Aspian Nur