Angka ini masih di atas HET yang telah ditetapkan pemerintah sebesar Rp17.000 per kilogram.
“Beras dari Sulawesi memang sudah masuk, tapi pasokan dari Jawa belum stabil. Hal ini disebabkan harga gabah yang naik sejak dari tingkat petani, ditambah biaya produksi dan distribusi yang turut meningkat,” ujarnya.
Kenaikan di tingkat hulu menyebabkan harga jual beras ke konsumen tak bisa ditekan di bawah HET, apalagi dengan ongkos angkut dan margin pedagang yang turut memperbesar nilai jual.
Dalam mengantisipasi lonjakan harga, Disdag terus melakukan pemantauan secara rutin di empat pasar tradisional utama di Balikpapan, Pasar Sepinggan, Klandasan, Pandansari, dan Pasar Baru.
Data dari pemantauan ini menjadi bahan pelaporan kepada pemerintah pusat sebagai dasar evaluasi dan penyesuaian kebijakan HET nasional.
“Kami terus pantau dan laporkan kondisi harga di lapangan kepada pusat. Dari laporan itu, diharapkan akan ada arahan atau kebijakan baru yang bisa membantu menekan harga di pasar,” tandasnya.
Langkah intervensi yang tengah disiapkan antara lain meliputi koordinasi dengan Bulog dan pelaksanaan operasi pasar jika diperlukan.
Pemerintah kota berkomitmen menjaga agar harga beras tetap terjangkau bagi masyarakat, tanpa mengganggu stabilitas pasokan.
Editor: Erwin