Pengamat Ekonomi: Negara Lemah Pangan dan Air Bersih Rentan Dijajah
2 menit baca0 kali dibaca

Penulis: M Rafik
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA – Pengamat Ekonomi dari Universitas Mulawarman (Unmul), Purwadi memprediksi bentuk perang antarnegara di masa depan kemungkinan besar akan berfokus pada penguasaan sektor pangan dan air bersih.
Menurutnya, suatu negara akan lebih mudah dikalahkan atau didominasi apabila memiliki kelemahan dalam ketahanan pangan maupun ketersediaan air bersih, sehingga ini bisa menjadi peluang senjata untuk menguasai negara lain atau biasa disebut Food Wars dan Water Wars
“Salah satu negara yang kuat di masa depan adalah negara yang bisa pegang sektor pangan,” terangnya kepada Koran Kaltim, Selasa (13/5/2025).
Dengan kondisi ini, seharusnya dapat menjadi atensi bagi pemerintah dalam meningkatkan potensi sektor pertanian guna mendorong ketahanan pangan di Kaltim, jika perlu Kaltim mampu menghentikan impor pangan dan bahkan dapat melakukan ekspor ke negara luar.
“Supaya kita tidak makan impor terus dan kalau bisa kita ekspor bahan pangan ke negara luar,” tegasnya.
Maka dari itu, ia mendorong agar sektor pertanian ini bisa segera diprioritaskan agar Kaltim tidak kesulitan memenuhi kebutuhan pangan. Pasalnya, hingga saat ini Kaltim masih berharap komoditas pangan dari Sulawesi dan Jawa.
Di sisi lain, generasi muda di Indonesia justru enggan mengambil peluang pada sektor pertanian. Hal ini terlihat dari data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyatakan bahwa generasi Z yang tertarik menjadi petani hanya sebesar 2,14 persen dari total populasi generasi Z di Indonesia sebesar 26,4 persen. Sementara usia rata-rata petani di Indonesia hampir mencapai 55 tahun.
Menanggapi hal ini, ia mengatakan bahwa untuk mendorong generasi muda agar dapat terlibat aktif di sektor pertanian tidak mudah dan memiliki banyak tantangan yang harus dihadapi.
Namun, pemerintah dinilai perlu memberikan insentif dan jaminan pasar serta kesejahteraan para petani kepada generasi muda yang ingin berkarir sebagai petani.
“Pemerintah harus memberikan jaminan pasar dan jaminan dengan hasil panen yang pantas bagi para petani, itu bisa menjadi salah satu solusi,” tandasnya.
Editor: Erwin










