Proyek tersebut akan meningkatkan kapasitas produski menjadi 360 ribu barel dari sebelumnya yakni 260 ribu barel per hari.
"Progresnya memang agak lambat karena kan ada (pandemi) Covid-19, menjadi terganggu," kata Arifin Tasrif usai meninjau Kilang Balikpapan, Minggu (12/8/2024) kemarin.
Progres proyek RDMP yang melambat juga dikarenakan krisis geopolitik seperti perang antara Rusia dengan Ukraina, sehingga arus pengiriman logistik impor menjadi terhambat. "Ini memang perlu suatu jalan keluar," ucapnya.
Kementerian ESDM sejatinya tidak ingin proyek RDMP terlambat. Pasalnya, membuat perencanaan kembali diundur apabila tidak sesuai target. Sehingga memengaruhi pendapatan finansial. "Efesiansi bisa kita lakukan, dan kalau terlambatkan kita akan lose," sebutnya.
Arifin kembali menegaskan bahwa tenggat waktu operasional kilang hasil RDMP adalah 2025. "Batas akhir September," ujarnya.
Proyek RDMP diyakini membuat Kilang Balikpapan menjadi kilang pengolahan yang terbesar di Indonesia. Sehingga membuat Pertamina sebagai perusahaan minyak dan gas yang mayoritas. Apalagi 60 persen bahan merupakan produk impor.
"Makanya kita butuh gantinya. Ya mudah-mudahan ada investor kilang baru, kita lagi tunggu. Insyaallah, ada,"
Sementara itu, Direktur Utama PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) Taufik Aditiyawarman menjelaskan bahwa proyek RDMP Balikpapan juga berdampak pada peningkatan kompleksitas kilang.
"Setelah proyek RDMP selesai seluruhnya di tahun 2025, Nelson Complexity Index (NCI) Kilang Balikpapan akan meningkat jadi 8. Artinya, kilang Balikapan akan memiliki kemampuan memproduksi berbagai varian produk," jelas Taufik.
Pengembangan proyek ini juga melibatkan pembangunan infrastruktur penunjang. Salah satunya adalah penyelesaian proyek pipa gas sepanjang 78 km dari Senipah ke Balikpapan, dengan kapasitas maksimal 125 juta standar kaki kubik per hari.
Pipa ini mengutamakan pemanfaatan sumber daya gas dalam negeri yang diproduksi oleh Pertamina Hulu Mahakam, sehingga Kilang Balikpapan dapat beroperasi dengan efisien tanpa membakar LPG, dan LPG dapat diekspor untuk kebutuhan masyarakat.
Peningkatan kapasitas produksi Kilang Balikpapan ini tidak hanya akan menambah produksi BBM nasional, tetapi juga meningkatkan kualitas produk yang dihasilkan. Dengan teknologi baru yang diterapkan, Kilang Balikpapan kini mampu memproduksi bahan bakar dengan standar Euro 5. (*)