Pantai yang berada di kawasan ini bercirikan seonggok batu besar yang menjorok ke laut, hal mana yang membuatnya disebut Batu Berdiri. Pantainya yang landai dan berpasir putih seakan dijaga oleh ribuan pohom kelapa.
Lamin Guntur EcoLodge memiliki keunikan yaitu bangunan awal berupa cottage yang kini menjadi favorit pewisata terbuat dari pohon kelapa dan beberapa ukiran khas Dayak sebagai cirinya.
Nama Lamin Guntur sendiri menurut sang pemilik diambil dari nama kepala Suku Dayak Basap yang merupakan penduduk asli dan pertama kali diangkat oleh Raja Sambaliung, diberi gelar Raja Guntur Moalam.
Dipantai Lamin Guntur EcoLodge terdapat gua kelelawar, rumah ribuan kelelawar yang juga konon katanya adalah merupakan tempat persembunyian para smuggle atau penyelundup yang memasukkan barang dari Tawau, Malaysia, ke Kalimantan Timur.
Saat ini Lamin Guntur EcoLodge menyediakan fasilitas penginapan mulai dari camping ground, cottage (pondok lamin) hingga villa dengan view pantai yang sangat menawan. Selain memiliki spot untuk selfie dari arah penginapan, pantai dan bukit, tempat wisata itu juga menyediakan fasilitas diving dan snorkling untuk menikmati alam bawah laut.
Perjalanan menuju Lamin Guntur Ecolodge bisa dicapai melalui Berau ataupun Sangatta, Kutai Timur, melewati beberapa titik pariwisata yang juga bisa disinggahi, sehingga perjalanan cukup jauh tidak terasa dan rasa lelah diperjalanan seakan terbayarkan ketika sudah berada dikawasan indah dan mempesona ini.
Pemilik Lamin Guntur Ronald Lolang menjelaskan, tempat tersebut didirikannya tahun 2017 dengan memberdayakan dan mengembangkan anak anak suku Dayak Basap untuk turut serta didalam pengelolaan Lamin Guntur Ecolodge. Itu philosophy kami, bahwa kami bertanggung jawab terhadap pengembangan SDM dilingkungan kami berada, ujar Beliau.
Saat ini, jumlah kunjungan wisatawan ke tempat tersebut selalu bertambah. “Lamin Guntur ini saya bangun sebagai persembahan cinta terdalam untuk istri saya, Ibu Pinky, yang sudah tiada,” jelas Ronald Lolang kepada Korankaltim.com Rabu (26/6/2024) hari ini.
“Banyak wisatawan mancanegara dan domestik yang datang dan menginap di cottage. Kalau warga local juga banyak yang datang untuk menikmati sunset dan menikmati makanan juga minuman karena lokasi restoran yang ada berhadapan langsung dengan laut,” jelasnya.
Ronald Lolang berharap Pemerintah Kabupaten Berau dapat mengenalkan Kampung Teluk Sumbang kepada dunia. “Tempat ini tak hanya jadi lokasi wisata nasional tapi juga internasional dan bisa mengalahkan Pulau Derawan,” tegas Ronald.
Editor: Aspian Nur