Angka inflasi tersebut berdasarkan data survei dari Badan Pusat Statistik (BPS) dimana tingkat inflasi tahunan yang masih cukup tinggi disebabkan oleh suplai bahan pangan mayoritas didatangkan dari luar Balikpapan.
Adapun komoditas penyumbang inflasi tertinggi pada Februari 2024 antara lain beras, angkutan udara, ikan layang, udang basah, dan sawi hijau. Kenaikan harga beras disebabkan oleh bergesernya masa panen. "Serta adanya banjir yang melanda daerah pemasok," sebut Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Kota Balikpapan, Robi Ariadi, Rabu (6/3/2024) hari ini.
Kemudian untuk inflasi angkutan udara didorong oleh kenaikan tarif penerbangan oleh beberapa maskapai khususnya yang bertarif rendah (low-cost carrier). Kondisi ini sejalan dengan kenaikan permintaan. "Mobilitas masyarakat meningkat. Kalau harga ikan layang berkaitan dengan hasil tangkap yang menurun," sebut Robi.
Adapun kenaikan sawi hijau disebabkan oleh curah hujan yang tinggi sehingga menurunkan produksi. "Di sisi lain kami patut bersyukur, laju inflasi tertahan oleh beberapa komoditas yang mengalami deflasi," ujarnya.
Deflasi atau penurunan harga komoditas terjadi pada daging ayam ras, tomat, bawang merah, bayam, dan minyak goreng.
Secara tahunan, Indeks Harga Konsumen (IHK) Kota Balikpapan tercatat mengalami inflasi sebesar 3,22 persen. Realisasi tersebut lebih rendah dibandingkan inflasi gabungan 4 Kota di Provinsi Kalimantan Timur yakni 3,28 persen. Namun lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional 2,75 persen.
"Tingkat inflasi tahunan yang masih cukup tinggi disebabkan oleh pasokan bahan pangan yang mayoritas didatangkan dari luar Balikpapan," tutup Robi.
Editor: Aspian Nur