Dia mengungkapkan riwayat kredit seseorang bisa dilihat dengan mudah hanya bermodalkan informasi NIK KTP saja. Yakni melalui Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) milik OJK "Jadi anak-anak muda tuh aware, oh iya jangan main-main utang online 'abis itu aku ganti nomor, udah nggak bisa ditagih'. Nggak gitu. Karena kalau udah pake KTP semuanya tuh akan masuk semua di SLIK ya," kata perempuan yang akrab disapa Kiki itu pada Agustus lalu dilansir adri CNBC Indonesia pada Minggu (5/11/2023).
Banyak anak muda yang ternyata terjerat utang online. Mulai dari anak sekolah yang konsumtif hingga fresh graduate untuk membeli barang saat menunggu waktu wisuda. Untuk itu, dia menyarankan anak muda perlu bertanggung jawab dengan performa dan catatan keuangan. Kedua hal tersebut, Kiki menjelaskan sangat penting untuk masa depan.
Bukan hanya tidak mendapatkan pekerjaan, Kiki juga menceritakan terdapat pihak Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yang menolak anak muda karena status mereka di SLIK. Ini terjadi hanya karena mereka berhutang pay later yang besarannya ratusan ribu saja.
"Padahal mereka cuma utang di pay later itu berapa ratus ribu seribu, tapi macet dan lain-lain. Jadi itu sayang kan, lebih penting di rumah kan daripada belanja-belanja enggak jelas gitu," katanya.
Kala itu, Kiki menjelaskan sistem SLIK tengah dikembangkan untuk lebih luas lagi. OJK sedang menggodok pembentukan pusat data Fintech Lending (Pusdafil), berikutnya pengajuan pinjol akan terintegrasi dengan SLIK OJK.
Pihak Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) telah meminta otoritas memasukkan data pinjol di SLIK. Karena ternyata banyak orang yang mengajukan pinjaman lewat pinjol karena belum terintegrasi dengan sistem tersebut. "Jadi plus minus sih [SLIK terintegrasi Pusdafil], jadi bagusnya adalah semua data terkoordinasi semua. Tapi nggak bagusnya ya, pasti lebih banyak orang yang kena catatan itu," ujar Kiki.
Editor: Maruly Zainuddin