Hal ini disampaikan oleh Ketua Tim Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim, Marinda Dama Prianto bahwa ada peningkatan yang terjadi pada sektor impor di Kaltim, salah satunya disebabkan oleh naiknya nilai impor migas sebesar 43,26 persen, yaitu dari sebesar USD253,79 juta pada Agustus 2023 menjadi sebesar USD363,59 juta pada September 2023.
"Komoditas minyak mentah mengalami kenaikan sebesar 136,91 persen, namun hasil minyak turun sebesar 63,65 persen," ucapnya, Selasa (17/10/2023).
Sementara itu, nilai impor non migas mengalami penurunan sebesar 32,50 persen, yaitu dari sebesar USD152,59 juta pada Agustus 2023 menjadi sebesar USD103,00 juta pada September 2023.
"Jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu, nilai impor dari Januari hingga September 2023 mengalami peningkatan sebesar 6,84 persen," jelasnya.
Marinda menyebutkan, jika peningkatan tersebut disebabkan oleh bertambahnya nilai impor migas sebesar 15,39 persen meskipun impor non migas turun sebesar 9,64 persen. Kenaikan nilai impor migas dipicu oleh naiknya impor minyak mentah sebesar 22,12 persen dan naiknya nilai impor hasil minyak sebesar 36,16 persen meskipun nilai impor gas turun sebesar 50,77 persen.
"Impor migas di Kaltim naik karena naiknya nilai impor minyak mentah, padahal nilai impor gas mengalami penurunan," ucapnya.
Dilihat dari perkembangannya, Marinda mengatakan bahwa Agustus 2023, kenaikan persentase terbesar adalah golongan barang bahan kimia anorganik yang mengalami kenaikan sebesar 309,98 persen, yaitu dari USD0,27 juta pada bulan Agustus 2023 menjadi USD1,12 juta pada September 2023.
Editor: Maruly Zainuddin