Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kota Balikpapan, R. Bambang Setyo Pambudi menyebut, tingginya harga beras disebabkan menurunnya produksi di daerah penghasil karena pengaruh fenomena El Nino.
"Serta kenaikan harga gabah kering panen (GKP) dan gabah kering giling (GKG) di tingkat petani," kata Bambang, Selasa (3/10/2023).
Selain itu, harga beras yang mengalami kenaikan di tingkat internasional juga memengaruhi harga di tingkat domestik. Kemudian kenaikan harga ikan layang disebabkan turunnya pasokan akibat gelombang tinggi di laut.
"Harga jagung manis dan kacang panjang juga naik, sejalan dengan hasil panen yang tidak maksimal akibat kendala cuaca serta tingginya permintaan masyarakat," ungkapnya.
Bahan bakar minyak (BBM) turut menjadi komoditas penyumbang inflasi. "Seiring penyesuaian BBM Nonsubsidi yang efektif berlaku September," ujarnya.
Namun laju inflasi juga tertahan oleh beberapa komoditas. Misalnya deflasi pada angkutan udara akibat mulai menurunnya aktivitas di bandara setelah aktivitas yang tinggi pada periode libur sekolah dan tengah tahun.
"Deflasi juga terjadi pada beberapa komoditas volatile food seperti cabai rawit, kangkung dan bawang merah seiring dengan lancarnya pasokan dari daerah penghasil," ungkapnya.
Selain itu, penurunan harga juga terjadi pada komoditas daging ayam ras di tengah pasokan yang meningkat. "Permintaan masyarakat menurun," ucapnya.
Kendati begitu, ada beberapa faktor yang diperkirakan masih akan memberikan tekanan inflasi. Diantaranya fenomena El Nino yang menyebabkan gagal panen untuk beberapa komoditas pangan utama di daerah penghasil.
Kemudian penyesuaian harga BBM terhadap jenis BBM non subsidi yang telah berlangsung sejak September 2023. Termasuk meningkatnya aktivitas kedinasan dan pariwisata seiring dengan perkembangan proyek Ibu Kota Nusantara (IKN) yang mengundang atensi publik.
Selanjutnya dikarenakan permintaan untuk berbagai komoditas pangan dan jasa yang meningkat karena ada dua Program Srategis Nasional (PSN). "RDMP Pertamina dan Pembangunan IKN," sebutnya.
Sebagai informasi tambahan, inflasi September 2023 sebesar 0,02 persen di Kota Balikpapan, lebih tinggi bila dibandingkan Agustus 2023 yang mengalami deflasi sebesar -0,16 persen.
Sementara secara tahunan, inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Kota Balikpapan tercatat sebesar 2,96 persen atau lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional 2,28 persen. Namun lebih rendah dari inflasi gabungan dua kota di Kaltim yang sebesar 3,07 persen. "Inflasi tahun kalender berjalan di Balikpapan adalah 2,62 persen," pungkas Bambang.
Editor: Maruly Zainuddin