Isran Noor berharap keberadaan smelter nikel ini mampu memberikan dampak positif serta lebih banyak lagi memberdayakan masyarakat di Kaltim. Dikatakan Isran, keberadaan pabrik nikel KFI di Kaltim merupakan cita-cita untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi agar lebih maju berkembang. "Ini merupakan cita-cita bangsa Indonesia, Kaltim, dan masyarakat Kabupaten Kutai Kartanegara, untuk mempercepat proses pertumbuhan ekonomi di Kaltim," ucap Isran usai peresmian PT KFI.
Dirinya menerangkan, apabila proses produksi nikel di PT KFI sudah maksimal, maka untuk tenaga pekerja bisa mencapai 10 hingga 15 ribu orang. "Sebagian besar tenaga kerja yang direkrut dari tenaga lokal yang ada di sekitar perusahaan, lalu dari Balikpapan dan dari Indonesia keseluruhan," katanya.
Isran juga menjelaskan, dalam produksinya pabrik tersebut memiliki kapasitas mencapai 8 juta ton.
"Produksi yang dihasilkan bisa sampai sekitar 5 juta ton nikel, di luar itu ada sekitarnya sekitar 2-3 juta ton baja, dengan total 8 jutaan ton lebih," ujarnya.
Isran menyebutkan, untuk saat ini proses produksi nikel di Kaltim masih tergolong mudah karena bahan baku berasal dari beberapa daerah di Indonesia. "Bahan baku itu dari wilayah timur, seperti Sulawesi, kepulauan Maluku, dan daerah lainnya," terangnya.
Dalam kesempatan tersebut dia juga menyinggung, selain Indonesia, negara Australia juga memiliki cadangan nikel yang banyak. "Kalau di Australia mau menjual ke Indonesia dengan harga murah, boleh saja. Tetapi pasti kita lebih siap dengan kebutuhan bahan baku nikel yang ada di Indonesia," jelasnya.
Editor: Maruly Zainuddin