"Ini mengakibatkan pasokan air bersih semakin berkurang dan berpotensi pada timbulnya konflik alokasi air terutama untuk pertumbuhan antara pertanian, industri dan energi," ujar Suharso dalam acara Dialog Nasional Antisipasi Dampak Perubahan untuk Pembangunan Indonesia Emas 2045, di Kantor Kementerian PPN/Bappenas, Jakarta, Senin (21/8/2023).
Dilansir dari Sindonews.com dampak perubahan iklim terhadap sektor pertanian menyebabkan semakin singkatnya periode ulang variasi iklim salah satunya siklus variasi El Niño–Southern Oscillation atau pergeseran periodik sistem atmosfer samudra di Pasifik tropis yang berdampak pada cuaca di seluruh dunia yang mestinya terjadi setiap 3 sampai 7 tahun sekarang menjadi lebih singkat 2 sampai 5 tahun.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah memberikan imbauan bahwa fenomena El Nino akan berlangsung cukup panjang pada tahun ini hingga akhir Desember 2023. Karena itu, dampak dari fenomena tersebut perlu dimitigasi agar tidak terjadi kelangkaan air, potensi kebakaran hutan dan lahan, serta penurunan produktivitas pangan.
Perubahan iklim menyebabkan pula kesulitan dalam menentukan waktu tanam mengingat terjadi pergeseran awal puncak dan akhir puncak musim hujan. “FAO (Food and Agriculture Organization) memproyeksikan potensi penurunan produksi padi di Indonesia akibat fenomena El Nino sebesar 1,13-1,89 juta ton, sehingga akan menurunkan pendapatan petani 9-20 persen,” bebernya.
Editor: Maruly Zainuddin