“Kami juga bingung, karena dalam Peraturan Menteri, distribusi terakhir kan di pangkalan, tapi nyatanya sekarang ini banyak pengecer,” kata Marnabas.
Disdag Samarinda sudah melakukan uji coba alur pendistribusian gas ini agar tepat sasaran dan harga tak melonjak lagi.
Bersama DPRD Samarinda mereka memanggil pihak Pertamina untuk mengetahui duduk perkara dan solusinya namun tetap saja kelangkaan masih terjadi sampai sekarang. Saat ini, Pemkot Samarinda tengah menggelar operasi pasar.
“Sebagai uji coba terhadap alur pendistribusian, ada 11.200 tabung gas melon sudah dibagikan ke 10 kecamatan dengan jadwal yang telah ditentukan. Kami menyasar masyarakat miskin ekstrem dan UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah),” paparnya.
Marnabas melihat untuk kasus pengecer, serupa dengan maraknya pengecer pada Bahan Bakar Minyak (BBM) karena yang seharusnya mendistribusikannya hanya sampai pada Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) atau pertashop saja.
“Untuk gas, saya tidak tahu ini kebijkan dari mana, boleh ada pengecer sekitar berapa persen gitu,” imbuhnya.
Selain mengupayakan agar distribusi gas tiga kilogram tepat sasaran, Marnabas juga mengaku akan mengkaji terhadap Harga Eceran Tertinggi (HET). Menurutnya, keuntungan yang didapatkan pangkalan gas elpiji 3 kg sangatlah minim. “Bayangkan keuntungan mereka cuma Rp2 ribu. Kalau sebulan 500 tabung, mereka cuma dapat sejuta saja sebulan,” terang Marnabas.
Editor: Aspian Nur