Pasalnya, hotel bintang 3 yang dikelola oleh perusahaan The Ascott Limited ini tak mewajibkan karyawannya berpakaian resmi seperti jas atau pun blazer layaknya karyawan hotel pada umumnya. Bertindik, celana jeans sobek, gondrong atau bertato tetap sah sebagai karyawan hotel tersebut.
Meski berbaju kaos, t-shirt yang mereka kenakan tetap seragam sebagai pembeda antara karyawan dan tamu hotel. Satu lagi, badge wajib terkalung di leher setiap karyawan sebagai identitas resmi.
Begitu menjejakan kaki di lobi hotel, tidak ada pemandangan bellboy berpakaian jas formal, termasuk karyawan front office yang berada dibalik meja resepsionis. Meski demikian, mereka tak kalah ramah menyapa setiap tamu yang datang.
Pada Rabu (3/5/2023), korankaltim.com berkesempatan melakukan wawancara dengan Manager Room Division, Hendrik Rudi Handoko terkait program terbaru dari hotel tersebut pasca libur Idulfitri yang baru lalu.
Dijamu secangkir teh di rooftop restoran dan bar Fox Lite Hotel Samarinda, banyak hal yang menjadi bahan obrolan kami, termasuk tema berpakaian karyawan hotel ini. Dikatakan Hendrik, cara berpakaian karyawan FOX Lite memang tidak banyak diadopsi oleh hotel berbintang.
Di Samarinda, hanya Hotel Harris dan FOX Lite saja yang karyawannya berpenampilan khas anak muda, karena kebetulan kedua hotel ini masih satu grup. “Saya saja pakai jeans robek dan bertindik, malah ada teman kami yang rambutnya gondrong, itu tidak masalah. Tapi kami tetap higienis dan bersih. Kuku saja tidak boleh kotor,” ungkap Hendrik yang awal karirnya sebagai petugas laundry pakaian ini.
Cara berpakaian ala anak muda ini jelasnya karena memang sudah menjadi brand yang ditetapkan perusahaan menyesuaikan target pasar yang dituju, yakni tamu hotel dari kalangan milenial dan pebisnis yang lebih suka praktis dan tak senang basi-basi.
Dikatakannya, sebagai Manager Room Division, dia memimpin 14 staf yang berada di bawah koordinasinya. Ada 5 staf bagian front office dan 9 staf house keeping. Dia mengaku termasuk tipe manager yang tegas namun fleksibel kepada stafnya dalam banyak hal, termasuk soal menjaga kebersihan hotel dari waktu ke waktu.
“Jangan sampai ada tamu yang komplain. Misalnya, di area ini (restoran), jangan sampai ada semut yang jalan-jalan di sudut ruangan. Makanya saya bilang ke anak buah, kalau diberi penugasan harus bisa dilaksanakan, kalau memang tidak bisa melaksanakan setelah dibina supervisornya, berarti dia tidak cocok bekerja sama dengan saya,” tambah pria berusia 41 tahun ini.
Dia menambahkan, setiap tamu yang komplain ataupun memberikan pujian apresiasi lewat media sosial (medsos) yang dikelola perusahaanya, sebisa mungkin dijawab, karena komplain dan apresiasi tamu menurutya merupakan masukan berharga sebagai bahan evaluasi.
Pria asal Malang, Provinsi Jawa Timur ini bercerita, saking mengutamakan kepuasan pelanggan, pernah sekali waktu dirinya bersama General Manager (GM) turun langsung ikut mengantar tamu untuk pindah hotel lantaran kamar di FOX Lite sudah terisi penuh.
“Termasuk kami (FOX Lite) juga ada kerja sama dengan pihak maskapai. Kalau delay dan penumpang pesawat di Bandara APT Pranoto terpaksa harus menginap, maka menginapnya di FOX Lite, itu kami langsung yang menjemput. Ini untuk kepuasan tamu,” tutur Hendrik lagi.
Editor: Maruly Zainuddin