“Setiap daerah pasti punya sektor unggulan. Kaltara kurang lebih dengan Kaltim, berjaya di sektor migas dan batu bara, termasuk tambang emas. Kalau nanti KIHI (Kawasan Industri Hijau Indonesia) jadi, bisa juga dari nikel-nya,” kata Syaiful dilansir dari Korankaltara.com Jumat (17/2/2023) hari ini.
Sektor pertanian di Kaltara juga tidak kalah unggul dalam hal pertumbuhan kinerja ekspor. Ini disebabkan komoditas kelapa sawit yang dikembangkan secara masif pada sejumlah daerah.
“Di sektor pertanian perkebunan juga ada potensi luar biasa dari sawit. Di Nunukan saja ada 12 perusahaan yang sudah sekaligus mempunyai pabrik pengolah CPO-nya, komoditas yang siap diekspor,” kata Syaiful lagi.
Pemerintah dinilai harus menangkap peluang potensi pendapatan dari komoditas ekspor yang dikirim. Permasalahan utama yang harus diselesaikan terlebih dahulu adalah komoditas ini banyak yang terpaksa dikirim melalui pelabuhan luar daerah.
“Sudah banyak disampaikan di ruang media, pemerintah harus meningkatkan status pelabuhan yang ada untuk bisa langsung ekspor ke sejumlah negara. Jadi, tidak perlu ke Surabaya, Makassar atau Jakarta. Jadi pajak ekspornya bisa masuk ke kita,” paparnya.
Sebagaimana diketahui, ekspor komoditas Kaltara melalui pelabuhan dalam daerah mencapai USD2,40 Miliar (Rp35,98 Triliun) pada tahun 2022. Hasil tambang tetap mendominasi ekspor Kaltara dengan kontribusi hingga 92,58 persen.
Sementara itu, ekspor hasil industri sebesar USD32,12 juta (Rp481,54 Miliar) justru mengalami penurunan 78,05 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Adapun hasil pertanian catat kinerja ekspor yang naik fantastis hingga 408 persen.
Negara tujuan ekspor komoditas dari pelabuhan di Kaltara didominasi India dengan nominal USD740,66 juta (Rp11,10 Triliun). Kemudian disusul China sebesar USD537,67 Juta (Rp8,06 Triliun) dan Malaysia sebesar USD182,43 Juta (Rp2,73 Triliun).
Disamping itu, tercatat ada komoditas Kaltara yang diekspor melalui pelabuhan di luar daerah. Nominalnya mencapai USD157,89 juta (Rp2,36 triliun). Komoditas ini dikirim melalui pelabuhan di DKI Jakarta, Jawa Timur dan Sulawesi Selatan.
Editor: Aspian Nur