Tingginya permintaan ini membuat Dinas Perkebunan (Disbun) Berau terus mendorong petani-petani kakao untuk mengambil peluang tersebut, walaupun luas pertanian kakao sejak beberapa tahun terakhir ini mengalami penurunan karena lahannya banyak beralih menjadi lahan kebun sawit.
“Memang luas lahan sejak tahun lalu jauh menurun namun untuk tahun ini sedikit meningkat,” kata Kepala Disbun Berau, Lita Handini.
Berdasarkan data Disbun Berau, pada 2021 lalu luas tanam kakao seluas 984.30 hektare. Sedangkan pada 2022 naik menjadi 1.003.80 hektare. Hal ini pun mempengaruhi terhadap hasil produksinya.
Saat ini kakao Berau terus menunjukkan harga terbaiknya, meski beberapa tahun sebelumnya hanya Rp27 Ribu per kilogram. Saat ini sudah naik hampir dua kali lipat menjadi Rp40 ribu perkilo ditingkat petani. “Banyaknya permintaan kakao menjadi persaingan harga antarkomoditas,” ungkap Lita.
Selain kakao, komoditas kelapa dalam juga dilakukan perluasan perkebunan. Tahun ini luas komoditas kelapa dalam yakni 2.390,17 hektare dengan produktifitas 1.794,24 ton pada 2022. Sentra kelapa dalam sendiri berada di daerah pesisir, tepatnya di Kecamatan Batu Putih, Talisayan hingga Bidukbiduk. Sebab secara ekosistem memang lebih cocok di sana.
Selama ini petani diarahkan untuk mandiri tapi jika mereka butuh mengembangkan komoditasnya dan tidak mampu secara mandiri bisa meminta bantuan terhadap Disbun. “Kami akan upayakan untuk bisa sehingga bisa diajukan melalui APBD Berau maupun provinsi Kaltim,” tutup Lita.
Editor: Aspian Nur